Showing posts with label Good Housekeeping Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Good Housekeeping Indonesia. Show all posts
The Lion King : A Heartwarming Musical
Tuesday, June 28, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - July 2011
“in the jungle the mighty jungle, the lion sleeps tonight…”

            Lagu jenaka tersebut pasti tak asing lagi bagi anda dan anak-anak anda. The Lion King salah satu produksi terfavorit Disney karena memiliki kisah yang lucu, mengharukan sekaligus sarat nilai moral. Kini, anda dapat menyaksikan pertunjukkan musikalnya di panggung teater Marina Bay Sands selama 2 bulan ini. Diangkat dari sebuah film kartun klasik yang dirilis tahun 1994, The Lion King mulai dipentaskan di panggung Broadway tahun 1997.
            Di panggung pementasan dunia, The Lion King tak kalah dahsyat karena memenangkan Tony Awards tahun 1998 dan Grammy Award untuk Album Musikal Terbaik tahun 1999. The Lion King sudah dimainkan di 70 negara dan dialihbahasakan dalam bahasa Jerman, Jepang, PeranGHs, Belanda dan Korea. Untuk showcase di Singapura, para pemain sudah berlatih sejak January 2011 untuk pementasan dari Maret 2011- May 2011. Berbekal pemain teater multinasional yang berasal dari Afrika Selatan, Amerika, Selandia Baru, Filipina, Taiwan, Kanada, Brazil dan beberapa negara Eropa, The Lion King bertekad untuk menghadirkan pertunjukan kelas dunia bagi para penontonnya.
            Dibuka dengan aksi ekstravagansa dari penari-penari dengan kostum binatang belantara Afrika yang berhamburan dari selasar teater, The Lion King berhasil menyuguhkan aksi yang teatrikal, kolosal dengan kostum modern kontemporer. 13 penyanyi dan 2 set perkusi memperkuat pertunjukan ini. Bunyi-bunyian bongo, konga, berimbau dan timpani makin memperkaya sisi musiknya.
             Kostum khusus  dan  topeng yang desainnya mengikuti alur badan para pemain, membuat mimik tokoh singa, lemur, serigala dan babi hutan dalam kisah ini makin hidup. Dialognya pun sangat jenaka dengan memasukkan sedikit unsur lokal seperti dialek Hokkian atau India. Anak-anak anda pasti juga terhibur karena selain ceritanya yang indah, penyampaiannya pun menyenangkan dan pesan moral yang diberikan cukup mudah untuk dicerna.            
             Pertunjukan ini berlangsung selama 3 jam dengan waktu reses 20 menit. Sampai saat ini, The Lion King adalah pertunjukan musikal dengan penayangan terlama di Singapura. Rata-rata pertunjukan musikal hanya berlangsung selama 2-4 minggu, sedangkan The Lion King berlangsung sejak Maret – Mei 2011, dengan rencana perpanjangan tayang hingga Agustus.
             Untuk menyaksikan The Lion King, anda dapat memesannya dari Sistic Ticketing (www.sistic.com.sg) atau Marina Bay Sands (http://thelionking.com.sg/buy-tickets/) untuk membeli tiket pertunjukan maupun paket menginap di hotel bernuansa resort terbaik di Singapura ini. Harga karcis pertunjukan berkisar dari  65-245 SGD dan dimainkan dari Selasa hingga Minggu sebanyak 8 kali (Selasa – Minggu jam 8 malam, extra show pada Sabtu & Minggu jam 2 siang). Jangan lewatkan sajian musikal yang tak hanya sangat menghibur bagi seluruh keluarga anda, tapi juga sarat dengan edukasi.

Box Interview
Jonathan Hume & Puleng March : Simba & Nala
Pemeran Simba (Jonathan Hume) dan Nala (Puleng March) kelihatan sangat antusias dengan produksi pertama mereka di Asia. Keduanya sudah 2 kali terlibat dalam pertunjukan The Lion King namun inilah kali pertama mereka menjadi leading role. Jonathan, pria berkebangsaan Inggris, dan Puleng, wanita berkebangsaan Afrika Selatan berkenan membagi kisah mereka dengan Good Housekeeping dalam wawancara 30 menit.
               Good Housekeeping (GH): bagaimana kalian diaudisi dan mendalami peran ini?

Jonathan Hume (JH): proses audisi berlangsung setahun sebelum produksi. Saya pernah terlibat pementasan The Lion King di London tahun 2001. Tapi produksi kali ini berbeda dan sutradara panggung kami, John Stefaniuk, menginginkan kami start fresh, sehingga peran Simba saya pelajari ulang tanpa terpengaruh pementasan sebelumnya.
Puleng March (PM):  saya juga pernah terlibat dalam produksi The Lion King di Afrika Selatan pada tahun 2008. Produksi The Lion King di setiap negara memiliki standard tertentu, namun tiap-tiap darinya begitu unik. Saya belajar banyak dari dokumenter singa, bahkan kami juga belajar dari penari Bali yang didatangkan untuk lebih menggali bahasa tubuh orang Asia.

GH: senangkah anda berada di Asia?

JH: sangat senang, bahkan kalau bisa saya ingin mengajak seluruh teman dan keluarga tinggal di sini. Kami sudah di sini sejak Januari dan minimal akan tinggal di sini hingga Agustus. Saya suka karena bisa pakai kaus dan celana pendek kapan saja.
PM: ini adalah kunjungan pertama saya di Singapura dan saya terkesan dengan keramahan Asia. Saya agak pemilih dalam makanan, tapi saya dimanjakan dengan berbagai pilihan makanan lokal di sini. Jika ada waktu, saya ingin berkeliling Asia Tenggara.

GH: apa yang membuat pertunjukan ini beda dengan filmnya?

JH: pertunjukan musikal ini saya rasa lebih visual dimana para penonton diajak untuk terlibat. Kami ingin membuat penonton merasakan ‘The Lion King’ experience, dimana kami membawa mereka ke dimensi lain. Ceritanya mungkin sama, tapi feel nya tetap berbeda.
PM: bahkan dari sisi cerita, pertunjukan ini memberikan extended-version. Tokoh Nala lebih diperdalam, begitupula background ceritanya. Lagu-lagu nya pun mempunyai versi yang sedikit beda dari kartun dengan track yang lebih banyak.

GH: bagaimana anda menyampaikan pesan moral untuk penonton anda yang berusia muda?

JH: walaupun kami memainkan pertunjukan matinee pada akhir minggu, kami tidak merubah apapun dalam format acara. The Lion King tetaplah The Lion King dan kami tidak membuat penyesuaian apapun untuk penonton anak-anak. Tapi justru karena The Lion King sendiri merupakan pertunjukan yang sifatnya universal dan bisa dinikmati bagi seluruh usia, baik tua maupun muda.
PM: pertunjukan ini sebenarnya sudah kaya secara visual, dimana sangat menarik bagi anak-anak untuk terus memperhatikan. Dialog dalam pertunjukan ini juga cukup ringan, lucu dan mudah dicerna sehingga apa yang kami sampaikan dapat ditangkap dengan mudah bagi audiens kami. Respons dari penonton terhadap kami, baik saat pertunjukan maupun sesudahnya sangat fantastis. Kami baru sebulan manggung, tapi sudah banyak yang menonton pertunjukan ini 2-3 kali karena mereka tak keberatan untuk menonton lagi dengan anggota keluarga atau teman yang berbeda.

GH: harapan anda tentang pertunjukan ini?

JH: kami ingin masyarakat tak hanya terhibur tapi juga bisa menginspirasi produksi musikal lokal. Rasanya bangga saat kami dikunjungi LaSalle Design School dan bisa berbagi tentang proses produksi dari pementasan ini.
PM: kami juga ingin menginspirasi audiens kami yang datang  dari umur yang berbeda-beda, terutama untuk anak-anak. Saya masih ingat ketika saya kecil dan menonton pertunjukan musikal untuk pertama kali, saya sangat terkesan dan bisa menyanyi berhari-hari setelahnya.


Suddenly Saigon
Wednesday, March 30, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - February2011
            Sahabat saya, Naila, sempat berkunjung ketika saya masih berdomisili di Singapura untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 32. Ide impulsif untuk mengunjungi Saigon datang saat kami tahu dari laman Facebook ada beberapa kawan yang sedang backpacking keliling IndoChina. Kami melakukan kontak untuk menyusul mereka di Ho Chi Minh City alias Saigon, sebelum mereka melanjutkan perjalanan keliling Vietnam. Berbekal tiket dadakan yang dipesan 5 jam sebelum keberangkatan dan sebuah ransel, kami berangkat ke Saigon untuk perjalanan 3 hari 2 malam.
Kota Seribu Motor
            Menginjak Saigon, kita seperti dihadapkan pada Jakarta tahun 1980 an. Ibukota Vietnam ini masih banyak motor yang berseliweran dengan tata kota dan traffic yang semerawut. Namun justru inilah yang jadi nadi penghidup kota terpadat di Vietnam ini. Bangunan tua berarsitektur kolonial Perancis yang berlomba dengan gedung berdesain modern menghiasi muka Saigon. Sementara rumah-rumah khas perkotaan Vietnam yang cenderung sempit namun tingginya sampai 4 lantai juga bertebaran di kota ini.
            Tidak perlu apply visa untuk mengunjungi Vietnam, cukup antri visa on arrival yang gratis bagi warga negara ASEAN. Dalam 30 menit, kita sudah bisa keluar dari imigrasi untuk ambil bagasi. Bandara Tan So Nhat cukup nyaman karena relatif baru, tapi seperti kebanyakan aiport negara berkembang, belum dilengkapi sistem informasi yang memadai. Dari sini, kita bisa memilih untuk menuju pusat kota dengan naik motor (USD 5-7) atau taksi (USD 10-12). Oh ya, bepergian di Vietnam lebih baik berbekal recehan USD karena mereka lebih menyukai mata uang Amerika ketimbang VND (Vietnam Dong). Biasanya, transaksi pembayaran dalam USD akan diberikan kembalian dalam VND. Kurs untuk 1 USD adalah sekitar 18.000 VND.
            Perjalanan menuju tengah kota Ho Chi Minh cukup ditempuh dalam 30-40 menit. Dengan luas 2.095 km2, Saigon terbagi atas 19 distrik lokal dan 5 distrik suburban. Untuk memudahkan acara jalan-jalan, disarankan untuk menginap di hotel yang terletak di District 1 yang merupakan pusat kota. Hotel termewah di kota ini, Rex Hotel, sudah berdiri sejak tahun 1970an dan baru direnovasi tahun 2008 kemarin, bisa anda tinggali dengan tarif mulai USD 100-150/malam. Tapi jika anda ingin berhemat, hotel bintang 2-3 di Saigon berkisar antara USD 70-45/malam. Paket murah ala Jalan Jaksa juga disediakan losmen sepanjang Pham Nguc Lao dengan tarif USD 10-30/malam.
            Untuk berkeliling Ho Chi Minh City, anda bisa ikut day tour yang banyak disediakan oleh hotel lokal dengan biaya USD 10-15 untuk setengah hari. Jika anda berniat untuk keliling kota sendiri, anda bisa naik taksi, motor maupun tuk-tuk sebagai sarana transportasi. Kebanyakan backpackers menyewa tukang ojek untuk berkeliling seharian cukup dengan membayar USD 5. Tapi jika anda bersama keluarga, akan lebih nyaman jika menyewa mobil sekitar USD 25-35/hari termasuk bensin.
Pasar Ben Thanh, Istana Reunifikasi & Notre Dame
            Belum sah jika pergi ke Saigon tanpa mampir ke Pasar Ben Thanh. Pasar ini hampir seperti Pasar Chatuchak di Bangkok, menawarkan berbagai barang baik untuk turis ataupun kebutuhan sehari-hari. Pastinya kita harus pandai-pandai menawar dan berhati-hati akan copet yang suka berkeliaran. Di sini kita bisa membeli souvenir seperti tas sulam sutera, topi kerucut, lukisan maupun ukiran kayu khas Vietnam. Tidak hanya itu, beberapa warung di bagian belakang pasar juga menyediakan makanan khas Vietnam seperti bahn pho (mie daging), guoi cuon (lumpia basah), roti baguette isi keju/daging asap/tuna, gorengan bakso, jajanan es maupun kopi tetes ala Vietnam dengan susu kental manis. Untuk makan di pinggir jalan, perlu hati-hati karena mereka biasa mengkonsumsi daging babi. Jadi tanyalah dulu sebelum menyantap hidangan Vietnam yang segar dan lezat.
            Istana Reunifikasi juga patut dikunjungi bagi yang gemar berwisata museum. Bangunan ini pertama kali berdiri sebagai kantor gubernur masa pendudukan Prancis pada tahun 1858. Pembangunan terakhir yang dilakukan pada tahun 1962 membuat arsitektur art-deco terasa kental, bercampur dengan aroma sejarah pada peninggalan di era peralihan masa borjuis menuju komunis yang terjadi tahun 1975. Yang menarik, istana ini juga memiliki ruang hiburan, lengkap dengan meja roulette untuk pejabat-pejabat berjudi.
            Selain itu, landmark yang tak bisa dilewatkan adalah katedral Notre-Dame yang menurut saya adalah salah satu bangunan tercantik di Saigon. Gereja katolik yang dibangun pada tahun 1863 dan diakui oleh Vatikan sebagai katedral basilika pada tahun 1962. Seluruh materialnya diimpor dari Prancis pada awal pembangunannya, bahkan kaca gelasnya didatangkan dari daerah Lorin dan batanya dari Marseille. Sebuah patung Bunda Maria ukuran raksasa terletak tepat di depan gereja. Sangat romantis untuk melewatkan senja dengan mengopi di kafe-kafe ala Prancis yang tersebar di sekitar area ini. Kantor Pos Lama Saigon yang tak kalah indah juga terletak beberapa meter dari tempat ini, membuat kita betah berlama-lama foto hunting di sini.
Jadi Tikus Tanah di Cu Chi Tunnel dan Menyusuri Mekong Delta
            Cukup membayar USD 25 untuk ikut serta paket wisata ke kuil Cao Dai dan Cu Chi Tunnel yang letaknya sekitar 2.5 jam dari Saigon. Kuil Cao Dai adalah semacam agama yang penganutnya memiliki mengakui agama Budha, Konghucu,Tao dan Kristen. Terletak di Tay Ninh, biasanya mereka melakukan doa bersama pada jam 12 siang dan upacara ini sangat menarik dengan pendeta dan penganutnya yang memakai jubah warna-warni.
            Cu Chi Tunnel sendiri adalah jaringan bawah tanah tempat Vietkong melakukan perlawanan terhadap tentara Amerika pada perang Vietnam di tahun 1960an. Para tentara Vietkong bersembunyi di sini dan lorong ini penuh dengan jebakan, baik berupa bom maupun alat penyiksaan yang lain. Ukurannya pun disesuaikan dengan tubuh orang Vietnam, sehingga sangat menyulitkan bagi tentara Amerika melawan mereka secara gerilya. Lorong ini dilengkapi dengan ruang makan, dapur umum, penyimpanan logistik, bahkan klinik dan sekolah. Seperti desa bawah tanah dan turis pun bisa menjajal keluar masuk lorong ini untuk merasakannya. Tapi hati-hati karena belum semua bom dibersihkan dari area ini, jadi kita harus berjalan di area yang sudah diamankan. Ada juga lapangan tembak dimana kita bisa menjajal senapan AK47 dan artileri berat lain dan kita boleh membawa pulang selongsong pelurunya.
            Yang juga bisa dicoba adalah perjalanan menyusuri Mekong Delta dari Saigon menuju Phnom Penh, Kamboja. Dengan menyusuri sungai Mekong, kita bisa menikmati keseharian masyarakat perairan dengan pasar dan desa terapung yang merupakan nadi kehidupan kaum Khmer di masa lampau. Ini adalah alternatif menarik jika anda mempunyai waktu 3 hari, sedangkan perjalanan Saigon – Phnom Penh bisa ditempuh dalam waktu 7 jam dengan menggunakan bis antar kota.

Liburan yang Gagal
Sunday, March 27, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - January 2011
          
             “Gimana Di? Udah bisa distarter?”
            “Kita nggak bisa kemana-mana sepertinya Rin. Tali kipasnya putus. Sementara aku nggak tau bengkel terdekat di mana.” keluh Hadi
            Oh great, now what? Sekarang kita minta tolong siapa? Mobil rusak di daerah antah berantah begini. Udah sore, kita nggak tau mesti kemana lagi. This really ruins my mood, Di!” ucap Rina dengan kesal.
            Well I didn’t expect this too, Rin. Aku sudah merencanakan liburan akhir tahun untuk kita sebaik mungkin. Siapa sangka kalau tali kipas mobil bisa putus coba?”
            Did you check the car before we leave? Of course not, karena kamu percayain semua sama Maman. Sekarang kalau nggak ada supir begini, kamu apa bisa ngebenerin mobil? Emang kamu ganti ban aja bisa? Sekarang apa kamu mau teleport Maman dari Tasik?”
            “Rina, bisa nggak sih kamu nggak marah-marah dalam situasi seperti ini? I’m as frustrated as you are. Aku juga mau liburan yang enak dan tenang seperti kamu. Aku pikir sekali-kali kita bisa pergi berdua saja; nggak perlu diantar supir atau diganggu telepon. Just calm down, we’ll figure this out…” bela Hadi.
            I’m hating this vacation already, arrrggghhh!!!!”
*****
            Mungkin semua orang melihatku dan Hadi sebagai pasangan yang sempurna. Aku kini bekerja pada sebuah perusahaan marketing & komunikasi sebagai seorang account manager. Hadi sendiri adalah arsitek yang sudah 7 tahun ini mempunyai biro yang didirikan bersama 3 kawannya. Kami sudah 4 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Sebagai putri tertua, orang tuaku sudah sangat ingin menimang cucu pertama dari kami. Sementara Hadi yang bungsu, sudah memiliki beberapa keponakan dari kakak-kakaknya. Aku dan Hadi memang menunda punya momongan dalam 2 tahun pertama perkawinan kami dengan alasan klise; ingin memperpanjang bulan madu dan menyiapkan dana untuk si jabang bayi.
            Namun dorongan untuk beroleh keturunan makin besar belakangan ini. Hadi sepertinya sudah ingin mempunyai anak sendiri; dia cukup terlatih dan sabar mengurus keponakan-keponakannya. Umurku sendiri tidak makin muda dan sudah pantas untuk menjadi ibu. Kami memang belum pergi ke ginekolog tapi mulai lebih sering menyempatkan diri untuk quality time dengannya. Kesibukanku belakangan meningkat seiring naiknya jabatanku setahun lalu. Sementara Hadi belakangan memiliki banyak proyek town house yang harus dia tangani. Frekwensi pertemuan kami makin berkurang, jangan tanya tentang keintiman jika sudah begitu. Bawaannya setelah sampai rumah hanya ingin mandi, istirahat sambil nonton TV sampai tertidur. Secara finansial kami memang sudah mapan, tapi aku bahkan tidak mengenal lagi siapa yang tidur disampingku setiap hari. Hidup jadi rutinitas yang monoton seperti robot, semuanya terasa jadi basa basi semu.
            Lalu Hadi mengusulkan untuk melewatkan libur akhir tahun di Pangandaran. Katanya ada sebuah boutique hotel yang cantik di sana. Suasananya cukup rileks untuk menghabiskan siang dengan berenang, kayaking dan berjemur di pantai atau hiking dan wall climbing di daerah sekitarnya. Sementara malamnya ada full-moon party di pinggir pantai dengan DJ terkenal, seperti yang ada di film ‘The Beach’ nya Leonardo di Caprio. Aku menurut saja dengan idenya walaupun sejujurnya aku cuma ingin melewatkan liburan dengan di istirahat rumah. Kurasa diam-diam Hadi merasakan kejenuhan yang sama, dan aku ingin menghargai usahanya menghidupkan bara asmara yang kini hampir padam.
*****
            “Jadinya gimana Di? Ini sudah jam 6. I’m tired and starving…” rajuk Rina.
            I’m sorry things doesn’t go as planned. Aku tadi sudah bicara sama seorang penduduk setempat. Kita bisa titip mobil di rumahnya. Nanti kita ke hotel pakai mobil bak miliknya. Aku akan telpon Maman untuk ke sini bawa mobil derek dan langsung antar ke bengkel lusa. Nanti kita balik ke Bandung pakai mobil sewa dari hotel saja ya, Rin.”
            “Baiklah kalau begitu. Untung kita kali nggak banyak bawa barang. Kalau nggak pasti repot.”
            “Bawa tujuh koper juga nggak masalah, wong kita dianter pake mobil bak. Kamu  mau bawa anak sapi juga bisa.”
            “Jangan bercanda ya, Di. Aku kalau lapar sama capek bawaannya makan orang, anak sapi saja nggak cukup!”
*****
            “Hey, Rina! Gimana liburan lo? Sukses berat nih?”
            “Haduh, bubar gagal total deh. Kalau bisa milih sih mendingan aku marathon DVD Sex and The City di rumah sambil tiduran di sofa!” ujar Rina ketus.
            Come on, it didn’t go that bad, right? What happened?” tanya Fere dengan mata membulat.
            First, kita nyasar karena salah jalan menuju hotel yang di Pangandaran. Soalnya kali ini Hadi setir sendiri nggak pake supir. Harusnya jam 2 sudah sampai, ini jam 4 belum ketemu tempatnya. Kedua, tali kipas mobil putus, Fe. Jadilah kita terlantar di jalan yang nyasar itu sekitar satu jam. Itu mobil akhirnya kita titip ke penduduk setempat buat diambil sama supir belakangan. Kita ke hotel naik truk dan baru bisa check-in jam 7 malam!”
            “Oh em jiii! Parah banget sih?!”
            “Belum kelar di situ, hotelnya fully booked dan pelayanannya jelek banget deh. Kayaknya mereka nggak siap terima tamu pas holiday season. Untung kamar kita ada jacuzzi nya, puas berendam dengan air hangat di situ. Otherwise, everything sucks, apalagi kita nggak bisa kemana-mana karena nggak ada mobil.”
            How about the full moon party? Katanya acaranya hits banget lho!” kata Fere.
            “Hits dari Hongkong! Isinya abege loncat-loncat sambil dengerin rave music. Mereka jerit-jerit sambil minum bir pletok dan alkohol murahan. Nggak tau sambil ngobat atau ngeganja juga mungkin. So unclassy, nggak kayak nongkrong di Segarra atau Kudeta gitu deh. Aku sama Hadi cuma di sana 10 menit terus pulang, nggak tahan sama remaja bau prengus!”
            “Lantas kalian countdown tahun baru di mana?”
            “Di kamar. Dalam jacuzzi, hehehe. Hadi ternyata udah nyiapin beberapa botol wine dan cokelat dari rumah. Akhirnya kita berendam berdua pakai bubble bath, sambil minum wine dan makan cokelat. Dan yaaah, gitu dehhh….” kerling Rina penuh arti.
            Wow, now that’s romantic!” cetus Fere sambil bertepuk tangan.
            “Iya, akhirnya kita banyak menghabiskan waktu di kamar. Bercinta, ngobrol, istirahat. Hal yang simpel tapi sangat kita butuhkan. Aku akhirnya bisa bicara hati ke hati dengan Hadi. Termasuk kejenuhan yang kita berdua rasakan. Sepertinya kita akan benahi ini dulu sebelum memutuskan punya anak.”
            So the vacation wasn’t a disaster after all. Aku lega akhirnya kamu bisa bicara terbuka dengan Hadi dan mulai membenahi persoalan kalian.”
            “Ada hikmahnya juga liburan kita tidak berjalan semestinya. Kita jadi punya waktu untuk diri sendiri dan justru itu yang lebih penting dikerjakan saat ini.”
            “Jadi liburan selanjutnya kemana? Tangkuban Perahu?”
            “Enak aja. Aku berhasil bikin Hadi guilty feeling karena liburan gagal kemarin. Bulan Februari kita mau ke Phuket seminggu pas Valentine. Itu baru liburan pantai yang hits banget, wooohooooo!” jerit Rina sambil tertawa senang.
            “Curaaaanggg, aku irii!”

BlackBerry Baru untuk Iren
Friday, March 25, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - December 2010
          
            “Van, uang belanjaku kurang nih. Kemarin kan kita banyak habis untuk pengeluaran Lebaran. Bisa kamu transfer ke aku sekitar 2 juta nggak?” tanya Iren sambil memasukkan susu dalam keranjang belanja.
            “Aduh kamu boros sekali sih, Ren. Tambahan 2 juta habis buat apa aja? THR jangan dihabiskan semua ah! Ingat lho kebutuhan Naia makin lama makin banyak. Kita harus lebih ketat dalam pengeluaran.”
            “Lah memang kamu aja yang perlu THR? Bi Yayah dan Mang Oyo kan perlu kita kasih THR, biar nanti habis Lebaran kita tetep punya pembantu dan supir. Erna juga perlu THR karena Naia sudah cocok sama dia dan aku nggak mau cari baby sitter lagi. Belum lagi biaya mudik kita ke Serang kemarin, ngasih amplop buat saudara-saudara kamu. Aku tuh nggak dapet apa-apa selain satu baju baru, sama kayak kamu dan Naia. Jadi boros yang mana maksud kamu, Van?”
            “Aku juga sudah nggak ada uang lebih lagi, Ren. Cuma cukup untuk ongkos transport sama makan siangku saja. Kamu nggak bisa nunda kepentingan yang lain? Tunggu sampai gaji bulan depan masuk lah, bisa kan?”
            “Kalau kamu nggak keberatan makan tumis buncis dan oseng pare 2 minggu ke depan sih aku nggak masalah, Van. Uang cuma cukup untuk susu dan popok Naia ya, jadi kamu jangan protes!”
            “Tega amat sih kamu, sayang. Nanti kalo aku rasanya sepet gimana dong, Iren maniskuuu….” sergah Irvan setengah loncat dari kursi kerjanya.
            “Ya kalau uangnya nggak ada aku mau bilang apa, Irvan gantengkuuuu… Ganteng tapi pahit, karena uang belanja saja nggak ada. Kamu tuh yang kurangi jatah rokokmu dong, demi kemaslahatan keluarga!” balas Iren setengah berteriak dari handphone nya.
            “Lho, kok jadi bawa-bawa uang rokokku sih? Itu kan sudah jadi variable tetap pengeluaran bulanan. Jangan dipotong dong, sayang….”
            “Sudah ah, aku malas ribut masalah uang. Ya sudah kalo nggak ada tambahan, 2 minggu ke depan kita nggak makan daging dan jajan ke luar. Tapi kamu jangan protes karena uangnya kan memang nggak ada. Nanti kamu pulang jam berapa, Van?”
            “Jam setengah delapan dari kantor. Semoga nggak terlalu macet ya. Aku masih mau main sama Naia sebelum dia bobok. Besok aku harus ke KL dan Hong Kong lagi seminggu untuk cek proyek jaringan sistem otomatisasi. ”
            “Makan di rumah?”
            “Iyya, kan kamu bilang nggak boleh makan di luar…”
            “Oke, nanti kumasakkan ikan asin dan oseng pare ya!”
            “Istri tegaaaaaa…!!!!!” jerit Irvan dengan kesal.
* * * * *
            “Iren sayaaaaang….”
            “Hmmmmh….?” jawab Iren dengan malas sambil mengunyah siomay.
            “Kita nikah sudah berapa lama ya?”
            “Pakai tanya lagi, memang kamu nggak bisa menghitung apa?”
            “Ah kamu nggak romantis deh! Tahun lalu aku cuek saja, kamu akhirnya ngambek seminggu. Sampai Naia jadi rewel karena ngambekmu pengaruh ke air susu kamu yang nggak lancar.” rungut Irvan sambil melipat korannya di meja makan.
            “Justru karena kamu tahun lalu sikapnya seperti itu, tahun ini aku nggak berharap banyak. Malas aku kalau kecewa lagi, Van!”
            “Ah kamu deh ngambeknya kok sampai setahun sih? Ya sudah, aku mau membayar semua kesalahanku tahun lalu deh. Tapi jangan ngambek lagi dong sayang…”
            “Hahaha, kamu ini kok kayak hutang aja pakai dibayar. Lunas apa nyicil nih?”
            “Kredit Tanpa Agunan. Kok jadi ngawur sih? Kamu deh, mood romantisku jadi hilang nih!”
            “Ya maaf, Irvan sayang. Jadi kamu mau membayar kekecewaanku dengan apa nih?” tanya Iren sambil menggelendot manja.
            “Dicicil boleh kan ya?”
            “Tuh kan, kamu deh!”
            “Hahaha, okay. Kita besok keluar untuk makan malam yang romantis ya. Jadi kamu harus dandan yang cantik. Setelah itu nanti aku akan kasih kejutan lain deh!”
            “Wah, benar nih? Kita sudah lama juga ya nggak makan malam di luar. Tumben kamu mendadak murah hati begini, setelah kemarin-kemarin selalu kasih alasan untuk penghematan.”
            “Ya aku kan juga harus menabung untuk surprise ini, Ren. Maaf ya kalau aku sempat agak ketat masalah pengeluaran sama kamu beberapa bulan terakhir ini. Tapi kamu pasti senang dengan apa yang aku persiapkan buat kamu.” kata Irvan sambil  memeluk Iren dari belakang.
            “Apa sih Van? Kamu kok hobi sekali bikin aku penasaran!”
            “Hehehe, untuk pancingan aku akan kasih satu kejutan untuk kamu malam ini, Ren. Ini sebuah BlackBerry Onyx putih buat kamu. Aku harap kamu suka sama kado ini ya, sayang…”
            “Aduh sayang, ini kan harganya mahal sekali. Kamu kok sampai beli ini buat aku sih? Kalaupun beli BlackBerry kan ada yang harganya lebih terjangkau untuk sekedar alat komunikasi saja.” Iren terbelalak sambil menimang kotak pemberian Irvan.
            “Aku nggak mau beli barang murah untuk isteriku tersayang, dong. Lagipula aku juga pakai BlackBerry Onyx warna hitam. Biar sepadan begitu maksudku. Aku juga mau komunikasi kita lebih lancar. Biar aku juga bisa selalu lihat foto-foto Naia langsung dari kamu. Aku nggak mau kesibukan kerjaku yang makin menggila belakangan ini menjauhkan aku dari keluargaku, dari kamu dan perkembangan Naia.”
            “Duh, kamu baik sekali deh Van. Terima kasih ya kadonya, aku suka sekali. Aku juga kadang sedih karena kamu sering kelewatan momen dalam perkembangan Naia. Sebagai ibunya memang sudah tugasku mengawasinya, sampai aku rela meninggalkan pekerjaanku untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Tapi aku kadang berharap kamu bisa melihat sendiri saat Naia pertama kali panggil ‘Mama’ atau bisa jalan. Aku nggak sabar untuk bisa memakai gadget ini. Kamu ajari aku ya malam ini?”
            “Pastinya sayangku. Jadi kalau kamu mau buka Facebook dari BlackBerry caranya….”
* * * * *
            “Iren, akhirnyaaaa!!!”
            “Hey….”
            “Kamu kemana aja sih 2 hari ini? Aku benar-benar putus asa nggak bisa menghubungi kamu selama ini, tahu??!”
            “Aku minta maaf, kemarin aku sibuk sekali karena Irvan mendadak menghujaniku dengan kejutan ulang tahun perkawinan kami. Tidak hanya sebuket bunga mawar dan makan malam, tapi juga BlackBerry baru.”
            “Wow, kok dia mendadak begitu sayang sama kamu?”
            “Sebelumnya dia juga selalu sayang padaku, San.” Iren berkata lirih sambil menggigit bibirnya.
            “Tapi kamu nggak bahagia dengan perkawinanmu. Kamu merasa terkungkung di rumah kan, berkutat dengan urusan domestik. Lalu semuanya berubah saat dia memberi kamu kado BlackBerry, begitu?”
            “Aku bukan nggak bahagia. Aku cuma jenuh dan aku harap kamu nggak memutar balikkan fakta itu.”
            “Aku merasa Irvan merenggut kamu dariku dengan memaksa kamu berhenti kerja. Aku nggak bisa lagi ketemu kamu setiap hari, menghabiskan 8 jam bersama kamu.”
            “Itu pilihanku juga, Ikhsan. Aku ingin langsung membesarkan Naia. Dan kamu tahu aku akan selalu memilih Irvan dan Naia ketimbang kita. Ingat, kita sudah berjanji tak mau menerabas batas itu, bukan?”
            “Ya, aku tahu aku bukan dan tidak pernah jadi prioritas di dalam hidupmu, Iren. Sampai kapanpun penantianku akan sia-sia kan? Jadi, berapa nomer PIN BlackBerry mu? Sini aku add!”
* * * * *