Showing posts with label feature. Show all posts
Showing posts with label feature. Show all posts
ZoukOut '05
Wednesday, June 29, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on Spice! Magazine - January 2006

Event ini sudah diselenggarakan selama 3 tahun berturut-turut dan masih menjadi magnet bagi clubbers mancanegara. ZoukOut '05 adalah event paling happening buat para party-goers di Asia Tenggara yang pantang untuk dilewatkan. It's not just a hip scene to party, it's also an event to see and be seen.

Mengambil lokasi di Siloso Beach, Singapore, ZoukOut '05  hadir dengan empat stage yang menjadi arena kepiawaian para DJ -internasional maupun lokal- dan musisi rock setempat Tahun ini ZoukOut '05 dipadati tak kurang 30,000 pengunjung yang asyik menikmati dentuman musik dansa dengan  Armin van Buuren, Nick Warren, Sven Vath, Chus & Cheballos serta Lil Louis Vega di belakang DJ booth panggung utama. Resident DJ Zouk Club seperti Aldrin, Tony Tay, Sonny dan Jeremy Boon turut menggoyang dua stage lainnya. Tidak mau kalah dengan dancing-scene, satu panggung khusus live rock diperuntukkan bagi band lokal seperti Electrico, Ronin, Concave Scream dan Tiramisu.
Kenyamanan pengunjung ZoukOut'05 didukung oleh fasilitas seperti booth tattoo, swinging trampolines dan tenda shisha selain gerai makanan dan minuman. Beberapa hampers dan tempat duduk disediakan bagi mereka yang perlu beristirahat. Mata juga dimanjakan oleh para pengunjung pemakai bikini, boxer maupun kostum pantai yang hip and sexy. Siapapun pastinya terhibur menikmati good music bersound system kelas dunia di pantai berpasir putih dan crowds yang oke punya.

Dengan tiket seharga $28-48, ZoukOut'05 wajib dihadiri mereka yang sanggup berpesta dari jam 8 sore hingga pukul 8 pagi. Bahkan party-goers dari Indonesia pun tak kalah banyaknya. Beberapa memutuskan untuk check-in di Shangri-La Rasa Sentosa, cukup 3 menit berjalan dari venue. Bagi yang datang tidak menginap di Pulau Sentosa, panitia menyediakan transportasi berupa coach bus gratis pulang pergi dari Harbour Front MRT. Dengan kemudahan seperti ini, sukar menolak godaan untuk tidak datang di cara keluar malam tahunan ini. Really honey, it's a time to loosen up, wear your tankini, zip your martini and get wild till dawn!


Zouk
Alamat : 17 Jiak Kim Street, Singapore 169420
Club : Zouk, Phuture, Velvet Underground, Wine Bar
Website : http://www.zoukclub.com/


Dinosaur Jr - part of Mozaic Music Festival spread
by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published onTrax Magazine - April 2011
Dinosaur Jr., trio punk legendaris asal Amherst, Amerika, adalah salah satu grup yang kehadirannya dinanti oleh publik Singapura. Bertempat di Esplanade Theatre Hall, konser yang mereka sajikan pada tanggal 16 Maret dihadiri sektar 700 pengunjung, yang kebanyakan berusia 30an. Tidak banyak memang dibandingkan dengan Kings of Convenience, tapi para fans hardcore J Mascis, Lou Barlow dan Murph. sangat antusias dengan pertunjukan yang disajikan. Hanya dengan beberapa petikan gitar Mascis, sebagian besar penonton merangsek ke bibir panggung. Pertunjukan yang sedianya adalah seating berubah menjadi stand up concert, sebuah kejadian yang tidak lazim di Singapura apalagi di Esplanade. Jika tidak dicegah oleh keamanan, yakinlah venue formal dan megah ini akan berubah menjadi mosh pit dan ajang slam dance karena 2 orang yang mencobanya segera ditarik oleh bouncer Dinosaur Jr.
Dibuka dengan Thumb-Been There-Imagination Blind , konser dimulai tepat jam 8.15 malam. Audience dimanjakan dengan lick heavy distortion gitar khas Mascis, yang malam itu sepertinya sibuk dengan tuning-retuning Fender Jazzmaster sunburst-nya untuk mendapatkan sound yang sempurna. Walaupun tidak terlalu akrab dengan audience (dengan komentar singkat 'Who is that guy?' saat seorang pemuda Melayu gondrong memanjat ke atas panggung), Mascis berhasil membuat penonton terpana dengan suara beratnya yang mirip Adam Durwitz dari Counting Crows. Tidak hanya itu, Murph pun sibuk mondar mandir ke balik panggung karena setelan drumnya yang kurang pas diawal 5 lagu. Agaknya Lou Barlow saja yang ramah berinteraksi dengan penonton, mulai dari pertengahan pertunjukan. Suaranya yang lebih harmonius mengimbangi Mascis walaupun caranya memainkan bass lebih seperti sedang memainkan gitar. Barlow tampil memikat dan charming, walaupun terlihat tensius dengan Mascis di panggung.
Setelah digoda dengan Get Me-Pieces-Plans, akhirnya penonton dihentak dengan Feel The Pain yang membuat Theater Esplanade hampir meledak. Sementara pembawaan Dinosaur Jr. begitu kalem dan tenang secara keseluruhan, tidak mengurangi kualitas speed metal sound yang mereka hasilkan. Mascis yang gayanya mirip Gandalf si penyihir, begitu fokus memainkan solo-part nya yang agresif tanpa banyak basa-basi. Selain itu mereka juga memainkan Over It-Back to Heart- Raisins-Freak Scene dan Forget The Swan. Sebagian besar lagu yang mereka mainkan memang dari album 'Farm' yang dirilis tahun 2009 oleh Jagjaguwar, sebuah indie label asal Bloomington, Indiana. Album terakhir ini versi Eropa nya sempat ditarik karena terlalu kuat 3 desibel. Mungkin ini pula mengapa para pengunjung diberikan ear-buffer sebelum konser dimulai, ritual yang juga terjadi pada pertunjukan Mogwai tahun 2007.
Barlow sempat menawarkan beberapa lagu untuk encore, namun tetap memainkan Budge dan Just Like Heaven, versi cover dari The Cure yang lebih cadas. Pertunjukan dengan durasi satu setengah jam tersebut ditutup dengan sesi autograph setelah konser, sebuah keniscayaan bagi band yang tampil di Mosaic.

The Lion King : A Heartwarming Musical
Tuesday, June 28, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - July 2011
“in the jungle the mighty jungle, the lion sleeps tonight…”

            Lagu jenaka tersebut pasti tak asing lagi bagi anda dan anak-anak anda. The Lion King salah satu produksi terfavorit Disney karena memiliki kisah yang lucu, mengharukan sekaligus sarat nilai moral. Kini, anda dapat menyaksikan pertunjukkan musikalnya di panggung teater Marina Bay Sands selama 2 bulan ini. Diangkat dari sebuah film kartun klasik yang dirilis tahun 1994, The Lion King mulai dipentaskan di panggung Broadway tahun 1997.
            Di panggung pementasan dunia, The Lion King tak kalah dahsyat karena memenangkan Tony Awards tahun 1998 dan Grammy Award untuk Album Musikal Terbaik tahun 1999. The Lion King sudah dimainkan di 70 negara dan dialihbahasakan dalam bahasa Jerman, Jepang, PeranGHs, Belanda dan Korea. Untuk showcase di Singapura, para pemain sudah berlatih sejak January 2011 untuk pementasan dari Maret 2011- May 2011. Berbekal pemain teater multinasional yang berasal dari Afrika Selatan, Amerika, Selandia Baru, Filipina, Taiwan, Kanada, Brazil dan beberapa negara Eropa, The Lion King bertekad untuk menghadirkan pertunjukan kelas dunia bagi para penontonnya.
            Dibuka dengan aksi ekstravagansa dari penari-penari dengan kostum binatang belantara Afrika yang berhamburan dari selasar teater, The Lion King berhasil menyuguhkan aksi yang teatrikal, kolosal dengan kostum modern kontemporer. 13 penyanyi dan 2 set perkusi memperkuat pertunjukan ini. Bunyi-bunyian bongo, konga, berimbau dan timpani makin memperkaya sisi musiknya.
             Kostum khusus  dan  topeng yang desainnya mengikuti alur badan para pemain, membuat mimik tokoh singa, lemur, serigala dan babi hutan dalam kisah ini makin hidup. Dialognya pun sangat jenaka dengan memasukkan sedikit unsur lokal seperti dialek Hokkian atau India. Anak-anak anda pasti juga terhibur karena selain ceritanya yang indah, penyampaiannya pun menyenangkan dan pesan moral yang diberikan cukup mudah untuk dicerna.            
             Pertunjukan ini berlangsung selama 3 jam dengan waktu reses 20 menit. Sampai saat ini, The Lion King adalah pertunjukan musikal dengan penayangan terlama di Singapura. Rata-rata pertunjukan musikal hanya berlangsung selama 2-4 minggu, sedangkan The Lion King berlangsung sejak Maret – Mei 2011, dengan rencana perpanjangan tayang hingga Agustus.
             Untuk menyaksikan The Lion King, anda dapat memesannya dari Sistic Ticketing (www.sistic.com.sg) atau Marina Bay Sands (http://thelionking.com.sg/buy-tickets/) untuk membeli tiket pertunjukan maupun paket menginap di hotel bernuansa resort terbaik di Singapura ini. Harga karcis pertunjukan berkisar dari  65-245 SGD dan dimainkan dari Selasa hingga Minggu sebanyak 8 kali (Selasa – Minggu jam 8 malam, extra show pada Sabtu & Minggu jam 2 siang). Jangan lewatkan sajian musikal yang tak hanya sangat menghibur bagi seluruh keluarga anda, tapi juga sarat dengan edukasi.

Box Interview
Jonathan Hume & Puleng March : Simba & Nala
Pemeran Simba (Jonathan Hume) dan Nala (Puleng March) kelihatan sangat antusias dengan produksi pertama mereka di Asia. Keduanya sudah 2 kali terlibat dalam pertunjukan The Lion King namun inilah kali pertama mereka menjadi leading role. Jonathan, pria berkebangsaan Inggris, dan Puleng, wanita berkebangsaan Afrika Selatan berkenan membagi kisah mereka dengan Good Housekeeping dalam wawancara 30 menit.
               Good Housekeeping (GH): bagaimana kalian diaudisi dan mendalami peran ini?

Jonathan Hume (JH): proses audisi berlangsung setahun sebelum produksi. Saya pernah terlibat pementasan The Lion King di London tahun 2001. Tapi produksi kali ini berbeda dan sutradara panggung kami, John Stefaniuk, menginginkan kami start fresh, sehingga peran Simba saya pelajari ulang tanpa terpengaruh pementasan sebelumnya.
Puleng March (PM):  saya juga pernah terlibat dalam produksi The Lion King di Afrika Selatan pada tahun 2008. Produksi The Lion King di setiap negara memiliki standard tertentu, namun tiap-tiap darinya begitu unik. Saya belajar banyak dari dokumenter singa, bahkan kami juga belajar dari penari Bali yang didatangkan untuk lebih menggali bahasa tubuh orang Asia.

GH: senangkah anda berada di Asia?

JH: sangat senang, bahkan kalau bisa saya ingin mengajak seluruh teman dan keluarga tinggal di sini. Kami sudah di sini sejak Januari dan minimal akan tinggal di sini hingga Agustus. Saya suka karena bisa pakai kaus dan celana pendek kapan saja.
PM: ini adalah kunjungan pertama saya di Singapura dan saya terkesan dengan keramahan Asia. Saya agak pemilih dalam makanan, tapi saya dimanjakan dengan berbagai pilihan makanan lokal di sini. Jika ada waktu, saya ingin berkeliling Asia Tenggara.

GH: apa yang membuat pertunjukan ini beda dengan filmnya?

JH: pertunjukan musikal ini saya rasa lebih visual dimana para penonton diajak untuk terlibat. Kami ingin membuat penonton merasakan ‘The Lion King’ experience, dimana kami membawa mereka ke dimensi lain. Ceritanya mungkin sama, tapi feel nya tetap berbeda.
PM: bahkan dari sisi cerita, pertunjukan ini memberikan extended-version. Tokoh Nala lebih diperdalam, begitupula background ceritanya. Lagu-lagu nya pun mempunyai versi yang sedikit beda dari kartun dengan track yang lebih banyak.

GH: bagaimana anda menyampaikan pesan moral untuk penonton anda yang berusia muda?

JH: walaupun kami memainkan pertunjukan matinee pada akhir minggu, kami tidak merubah apapun dalam format acara. The Lion King tetaplah The Lion King dan kami tidak membuat penyesuaian apapun untuk penonton anak-anak. Tapi justru karena The Lion King sendiri merupakan pertunjukan yang sifatnya universal dan bisa dinikmati bagi seluruh usia, baik tua maupun muda.
PM: pertunjukan ini sebenarnya sudah kaya secara visual, dimana sangat menarik bagi anak-anak untuk terus memperhatikan. Dialog dalam pertunjukan ini juga cukup ringan, lucu dan mudah dicerna sehingga apa yang kami sampaikan dapat ditangkap dengan mudah bagi audiens kami. Respons dari penonton terhadap kami, baik saat pertunjukan maupun sesudahnya sangat fantastis. Kami baru sebulan manggung, tapi sudah banyak yang menonton pertunjukan ini 2-3 kali karena mereka tak keberatan untuk menonton lagi dengan anggota keluarga atau teman yang berbeda.

GH: harapan anda tentang pertunjukan ini?

JH: kami ingin masyarakat tak hanya terhibur tapi juga bisa menginspirasi produksi musikal lokal. Rasanya bangga saat kami dikunjungi LaSalle Design School dan bisa berbagi tentang proses produksi dari pementasan ini.
PM: kami juga ingin menginspirasi audiens kami yang datang  dari umur yang berbeda-beda, terutama untuk anak-anak. Saya masih ingat ketika saya kecil dan menonton pertunjukan musikal untuk pertama kali, saya sangat terkesan dan bisa menyanyi berhari-hari setelahnya.


The Legend of Chinese Noodle
Friday, April 1, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on ICBC Magazine- April 2011

            Makanan yang tak lagi asing bagi lidah kita, siapa yang bisa menolak kelezatan mie ayam atau bakso kuah? Baik di gerobak jajanan maupun di lemari dapur dalam bentuk instan, mie hampir selalu jadi hidangan pilihan selain nasi. Nikmat direbus pagi hari dengan kornet dan telur, sedap digoreng dengan sayur, seafood atau daging sebagai lauk. Mie juga merupakan sajian wajib untuk perayaan di Cina. Untuk makanan yang sering kita jumpai, siapa sangka mie memiliki sejarah sepanjang bentuknya?
Kisah Muasal Mie
            Tak kurang dari 3 bangsa -Cina, Arab dan Italia- mengklaim menemukan mie. Teknik penggilingan gandum konon telah lebih dahulu berkembang di Mesir dan Persia. Produk gandum yang dihasilkan berupa lembaran-lembaran tipis menyerupai mie.  Sedangkan di benua Eropa, mie mulai dikenal setelah Marco Polo kembali dari China tahun 1200 dan membawa teknik pembuatan mie. Pada perkembangannya di Eropa, mie berevolusi menjadi beragam pasta yang menjadi makanan pokok di Italia karena bisa disimpan lebih lama ketimbang roti.
            Resep pertama pembuatan la-mien, bahasa Cina dari mie, berasal dari dinasti Han di Cina pada tahun 25-220 SM. Mie dibuat secara handmade dan setelah tahun 700, sejarah mencatat terciptanya mesin pembuat mie berukuran kecil dan mulai diproduksi secara mekanikal. Mie konon merupakan makanan terpopuler dan seringkali dijual di warung hingga larut malam pada masa dinasti Song antara tahun 960-1279.
            Tradisi Cina meyakini bahwa mie adalah makanan yang wajib disajikan, terutama saat perayaan atau hari besar. Siu Mie atau mie panjang umur merupakan penganan khas yang hadir untuk menyemarakkan perayaan tahun baru Cina atau Imlek. Mie goreng yang gurih dan kenyal disajikan hangat dengan aneka isian sawi, kol, jamur,  udang, kerang, dan cumi yang lezat. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, menyantap Siu Mie adalah wajib sebagai simbol umur panjang dan rejeki yang tiada putus. Siu Mie dianggap sebagai simbolisasi kelanggengan umur manusia.
Ribuan Jenis Mie
            Mie Cina biasanya terbuat dari tepung terigu, tepung beras, tepung kentang, pati kacang hijau. Penduduk Cina Utara lebih menggemari mie dengan bahan baku utama gandum yang dikenal dengan nama ban-mien atau mian-bao, yang jadi hidangan utama selain roti pau maupun mantau. Sedangkan mie beras berwarna putih yang sering dikenal dengan nama hor-fun atau kuay-teow merupakan hidangan khas Cina Selatan karena mereka juga banyak mengkonsumsi nasi. 
            Bahan dasar mie cukup sederhana: tepung, telur , air dan alkali. Namun kelezatan dan keunikan mie tergantung bahan tambahan yang dicampurkan dan teknik pembuatannya. Untuk menghasilkan resep mie tertentu. adonan tersebut bisa ditambahkan sereal, teh hijau, pati bayam, ekstrak kaldu maupun minyak wijen untuk mendapatkan rasa dan aroma yang khas. 
            Mie segar handmade yang dibuat sesaat sebelum disajikan rasanya pun lebih sedap ketimbang mie jadi maupun siap saji. Kini juga mulai marak gerai mie dengan dapur terbuka sehingga kita bisa melihat cara pembuatannya. Dengan ditarik, digiling, disisir maupun digunting, mie diolah dan sesekali diuleni tepung agar tidak lengket satu sama lain. Untuk jenis mie keriting, maka ada tambahan proses untuk dikeringkan, dijemur atau digoreng dulu sebelum kemudian diolah.
            Salah satu mie yang unik adalah liang pi, yaitu sejenis mie beras putih yang bentuknya kecil-kecil seperti spiral atau kecebong. Mie asal Shanxi ini biasa dihidangkan dingin dengan kuah kecap asin, minyak cabe dan bawang putih. Di Pontianak, mie jenis ini direbus dan disajikan dengan daging cincang dengan kuah terpisah.
Inspirasi Bagi Hidangan Mancanegara    
            Seiring dengan berkembangnya apresiasi kuliner masyarakat dunia, kelezatan mie Cina pun sudah dikenal oleh dunia. Berbagai resep khas dari negeri Tirai Bambu seperti ban mien (mie kuah berbentuk pipih dengan bakso dan taburan ikan bilis), beef hor fun (mie beras putih dengan irisan daging sapi dan kuah kental), char kway teow (mie goreng kecap dengan isian berbagai sayur dan daging) bisa anda dapatkan di gerai makanan atau restoran di seluruh dunia. Yang tak kalah lezat dan unik adalah tan tan mien (mie dengan saus kacang ala Beijing) atau Laksa (mie putih dengan kuah kari/asam).
            Bangsa Jepang, Korea dan Indochina pun juga memiliki mie khas masing-masing yang memperkaya glosari hidangan dunia. Sebut saja ramen (mie tipis yang biasa dihidangkan dengan kuah kaldu dan daging goreng, kuah kecap asin, atau  kaldu sup tulang), soba (mie gandum kasar yang biasa dihidangkan dingin) atau udon (mie dengan bulur besar) yang populer di Jepang. Bibimguksu (mie campur yang diulen telur, pasta cabe dan sayuran) dan kimchimyeon (mie kuah dengan asinan sawi pedas) adalah hidangan favorit di Korea. Di Vietnam, banyak tersebar warung pho bo (mie beras putih kuah dengan kecambah, sawi, irisan daging sapi dan perasan jeruk nipis) yang buka dari pagi sampai malam.
            Tak pelak, mie sudah jadi bagian dari budaya makan di dunia. Dengan seribu rupa cara pengolahan, pasti selera anda akan tergugah untuk mencoba salah satu dari hidangan diatas. Jadi tunggu apalagi? Pesanlah semangkuk hidangan mie yang nikmat untuk memanjakan lidah anda!
            Box part
Sajian Mie Khas Nusantara
            Tidak sedikit ragam masakan di Indonesia yang menggunakan bahan dasar mie. Mie yang banyak dikonsumsi di Indonesia berbasis gandum (mie kuning atau mie telor)  Bakmie atau bihun kuah dengan rajangan daun bawang, minyak sayur, sawi, bawang goreng dan bakso adalah sajian yang tak asing lagi. Namun mie dengan citarasa khas Nusantara ternyata sangat beragam.
            Mie Bangka mungkin salah satu mie terpopuler di Indonesia. Dengan ditambahkan rajangan ayam jamur dan pangsit rebus atau goreng, mie Bangka siap dihidangkan dengan kuah kaldu. Hidangan ini juga bisa diolah secara yamin dengan diulen dalam kecap sebelum diberikan pelengkap lainnya. 
            Bagi yang gemar dengan mie dengan kuah kental, dapat mencoba Mie Jawa. Setelah direbus dan ditiris, mie kuning dimasak di atas anglo dengan rajangan bakso, irisan keekian (bakso udang yang bentuknya panjang), hati/ampla/suwiran daging ayam, sawi, wortel dan dikentalkan dengan sedikit larutan maizena. Cita rasanya sedap dan maknyus, apalagi disajikan dengan cabai rawit dan acar bawang & ketimun.
            Yang juga mulai populer belakangan ini adalah Mie Aceh. Hidangan ala mie masak ini memakai bumbu kari pedas dengan wangi rempah daun temuru yang tajam. Mie Aceh disajikan dengan pilihan daging kepiting, seafood atau ayam. Sedangkan untuk versi gorengnya memakai banyak bubuk lada, pala dan kapulaga agar citarasa pedasnya tak berkurang.
            Mie Kangkung asal Bandung pun banyak digemari dan sering tersedia di perhelatan pernikahan. Mie telur dengan kuah kaldu bening ini dilengkapi kangkung, ayam suwir, tauge dan telur burung puyuh. Rasanya segar dan nikmat karena ditambah perasan jeruk nipis.
            Dari Makasar juga terkenal Mie Cakalang yang biasanya digoreng kering dengan taburan daging ikan cakalang dan bawang goreng. Untuk variasi mie kuah, Makasar juga terkenal dengan Mie Titi dinikmati dengan disajikan dengan kuah kental dan irisan ayam, udang, jamur, hati dan cumi. Sedangkan pilihan hidangan mie dari daerah Palembang adalah Mie Celor. Dengan kaldu udang kental bercitarasa asam pedas gurih, mie ini nikmat disantap kerupuk ikan.

Suddenly Saigon
Wednesday, March 30, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - February2011
            Sahabat saya, Naila, sempat berkunjung ketika saya masih berdomisili di Singapura untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 32. Ide impulsif untuk mengunjungi Saigon datang saat kami tahu dari laman Facebook ada beberapa kawan yang sedang backpacking keliling IndoChina. Kami melakukan kontak untuk menyusul mereka di Ho Chi Minh City alias Saigon, sebelum mereka melanjutkan perjalanan keliling Vietnam. Berbekal tiket dadakan yang dipesan 5 jam sebelum keberangkatan dan sebuah ransel, kami berangkat ke Saigon untuk perjalanan 3 hari 2 malam.
Kota Seribu Motor
            Menginjak Saigon, kita seperti dihadapkan pada Jakarta tahun 1980 an. Ibukota Vietnam ini masih banyak motor yang berseliweran dengan tata kota dan traffic yang semerawut. Namun justru inilah yang jadi nadi penghidup kota terpadat di Vietnam ini. Bangunan tua berarsitektur kolonial Perancis yang berlomba dengan gedung berdesain modern menghiasi muka Saigon. Sementara rumah-rumah khas perkotaan Vietnam yang cenderung sempit namun tingginya sampai 4 lantai juga bertebaran di kota ini.
            Tidak perlu apply visa untuk mengunjungi Vietnam, cukup antri visa on arrival yang gratis bagi warga negara ASEAN. Dalam 30 menit, kita sudah bisa keluar dari imigrasi untuk ambil bagasi. Bandara Tan So Nhat cukup nyaman karena relatif baru, tapi seperti kebanyakan aiport negara berkembang, belum dilengkapi sistem informasi yang memadai. Dari sini, kita bisa memilih untuk menuju pusat kota dengan naik motor (USD 5-7) atau taksi (USD 10-12). Oh ya, bepergian di Vietnam lebih baik berbekal recehan USD karena mereka lebih menyukai mata uang Amerika ketimbang VND (Vietnam Dong). Biasanya, transaksi pembayaran dalam USD akan diberikan kembalian dalam VND. Kurs untuk 1 USD adalah sekitar 18.000 VND.
            Perjalanan menuju tengah kota Ho Chi Minh cukup ditempuh dalam 30-40 menit. Dengan luas 2.095 km2, Saigon terbagi atas 19 distrik lokal dan 5 distrik suburban. Untuk memudahkan acara jalan-jalan, disarankan untuk menginap di hotel yang terletak di District 1 yang merupakan pusat kota. Hotel termewah di kota ini, Rex Hotel, sudah berdiri sejak tahun 1970an dan baru direnovasi tahun 2008 kemarin, bisa anda tinggali dengan tarif mulai USD 100-150/malam. Tapi jika anda ingin berhemat, hotel bintang 2-3 di Saigon berkisar antara USD 70-45/malam. Paket murah ala Jalan Jaksa juga disediakan losmen sepanjang Pham Nguc Lao dengan tarif USD 10-30/malam.
            Untuk berkeliling Ho Chi Minh City, anda bisa ikut day tour yang banyak disediakan oleh hotel lokal dengan biaya USD 10-15 untuk setengah hari. Jika anda berniat untuk keliling kota sendiri, anda bisa naik taksi, motor maupun tuk-tuk sebagai sarana transportasi. Kebanyakan backpackers menyewa tukang ojek untuk berkeliling seharian cukup dengan membayar USD 5. Tapi jika anda bersama keluarga, akan lebih nyaman jika menyewa mobil sekitar USD 25-35/hari termasuk bensin.
Pasar Ben Thanh, Istana Reunifikasi & Notre Dame
            Belum sah jika pergi ke Saigon tanpa mampir ke Pasar Ben Thanh. Pasar ini hampir seperti Pasar Chatuchak di Bangkok, menawarkan berbagai barang baik untuk turis ataupun kebutuhan sehari-hari. Pastinya kita harus pandai-pandai menawar dan berhati-hati akan copet yang suka berkeliaran. Di sini kita bisa membeli souvenir seperti tas sulam sutera, topi kerucut, lukisan maupun ukiran kayu khas Vietnam. Tidak hanya itu, beberapa warung di bagian belakang pasar juga menyediakan makanan khas Vietnam seperti bahn pho (mie daging), guoi cuon (lumpia basah), roti baguette isi keju/daging asap/tuna, gorengan bakso, jajanan es maupun kopi tetes ala Vietnam dengan susu kental manis. Untuk makan di pinggir jalan, perlu hati-hati karena mereka biasa mengkonsumsi daging babi. Jadi tanyalah dulu sebelum menyantap hidangan Vietnam yang segar dan lezat.
            Istana Reunifikasi juga patut dikunjungi bagi yang gemar berwisata museum. Bangunan ini pertama kali berdiri sebagai kantor gubernur masa pendudukan Prancis pada tahun 1858. Pembangunan terakhir yang dilakukan pada tahun 1962 membuat arsitektur art-deco terasa kental, bercampur dengan aroma sejarah pada peninggalan di era peralihan masa borjuis menuju komunis yang terjadi tahun 1975. Yang menarik, istana ini juga memiliki ruang hiburan, lengkap dengan meja roulette untuk pejabat-pejabat berjudi.
            Selain itu, landmark yang tak bisa dilewatkan adalah katedral Notre-Dame yang menurut saya adalah salah satu bangunan tercantik di Saigon. Gereja katolik yang dibangun pada tahun 1863 dan diakui oleh Vatikan sebagai katedral basilika pada tahun 1962. Seluruh materialnya diimpor dari Prancis pada awal pembangunannya, bahkan kaca gelasnya didatangkan dari daerah Lorin dan batanya dari Marseille. Sebuah patung Bunda Maria ukuran raksasa terletak tepat di depan gereja. Sangat romantis untuk melewatkan senja dengan mengopi di kafe-kafe ala Prancis yang tersebar di sekitar area ini. Kantor Pos Lama Saigon yang tak kalah indah juga terletak beberapa meter dari tempat ini, membuat kita betah berlama-lama foto hunting di sini.
Jadi Tikus Tanah di Cu Chi Tunnel dan Menyusuri Mekong Delta
            Cukup membayar USD 25 untuk ikut serta paket wisata ke kuil Cao Dai dan Cu Chi Tunnel yang letaknya sekitar 2.5 jam dari Saigon. Kuil Cao Dai adalah semacam agama yang penganutnya memiliki mengakui agama Budha, Konghucu,Tao dan Kristen. Terletak di Tay Ninh, biasanya mereka melakukan doa bersama pada jam 12 siang dan upacara ini sangat menarik dengan pendeta dan penganutnya yang memakai jubah warna-warni.
            Cu Chi Tunnel sendiri adalah jaringan bawah tanah tempat Vietkong melakukan perlawanan terhadap tentara Amerika pada perang Vietnam di tahun 1960an. Para tentara Vietkong bersembunyi di sini dan lorong ini penuh dengan jebakan, baik berupa bom maupun alat penyiksaan yang lain. Ukurannya pun disesuaikan dengan tubuh orang Vietnam, sehingga sangat menyulitkan bagi tentara Amerika melawan mereka secara gerilya. Lorong ini dilengkapi dengan ruang makan, dapur umum, penyimpanan logistik, bahkan klinik dan sekolah. Seperti desa bawah tanah dan turis pun bisa menjajal keluar masuk lorong ini untuk merasakannya. Tapi hati-hati karena belum semua bom dibersihkan dari area ini, jadi kita harus berjalan di area yang sudah diamankan. Ada juga lapangan tembak dimana kita bisa menjajal senapan AK47 dan artileri berat lain dan kita boleh membawa pulang selongsong pelurunya.
            Yang juga bisa dicoba adalah perjalanan menyusuri Mekong Delta dari Saigon menuju Phnom Penh, Kamboja. Dengan menyusuri sungai Mekong, kita bisa menikmati keseharian masyarakat perairan dengan pasar dan desa terapung yang merupakan nadi kehidupan kaum Khmer di masa lampau. Ini adalah alternatif menarik jika anda mempunyai waktu 3 hari, sedangkan perjalanan Saigon – Phnom Penh bisa ditempuh dalam waktu 7 jam dengan menggunakan bis antar kota.

Uniquely: Bali
Tuesday, March 29, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on ICBC Magazine- February 2011


             Diberkahi oleh hamparan ratusan pantai dan ribuan pura, Bali bukan lagi destinasi yang asing bagi kita. Kesohoran pulau dewata yang bergaung di manca negara semakin membahana, terimakasih pada film Hollywood yang baru-baru ini dirilis: Eat, Pray, Love. Film yang dibintangi oleh Julia Roberts dan Javier Bardiem ini diangkat dari sebuah novel terkenal yang ditulis oleh Elisabeth Gilbert, menceritakan perjalanan spiritualnya saat mengunjungi Roma, Ganeshpuri dan Bali. Di film itu, kita bagaikan dibuka matanya sebagai orang Indonesia, sejauh apakah kita mengenal tempat wisata yang mungkin telah kita kunjungi berkali-kali ini. Karena bagaikan kotak mestika, Bali menyimpan begitu banyak kejutan dan keindahan yang tak habis dieksplorasi, yang bukan melulu hanya daerah Kuta dan sekitarnya.
Tetirah ala Eat, Pray, Love
            Gilbert menjadikan Ubud sebagai destinasi terakhir dari perjalanan mencari jati dirinya bukan tanpa sebab. Epik terakhir yang bernama Cinta, bukan sekedar karena dia menemukan belahan hatinya, Felipe, tapi juga karena dia bisa berdamai dengan dirinya di sini. Tentunya ini tak lepas dari aura Ubud yang tenang, damai dan indah.
            Hamparan sawah yang hijau di Ubud, mungkin tak jauh beda dari kebanyakan pedesaan di Indonesia. Tapi kentalnya aroma budaya Bali dengan kehidupannya membuatnya berbeda dari tempat lain. Café kecil, studio lukis/pahat, kelas yoga dan spa eksotis membuat tempat ini tidak hanya indah tapi nyaman untuk ditempati. Tak heran banyak warga negara asing yang hanya merencanakan berkunjung seminggu, akhirnya tinggal selama setahun di sini.
            Nikmati pemandangan sungai Ayung yang indah sambil sarapan pagi di hotel untuk memulai hari anda. Lanjutkan dengan naik sepeda ontel menuju Yoga Barn  untuk mengambil kelas yoga atau meditasi. Bagi yang gemar kegiatan menantang dapat memilih untuk berarung jeram atau trekking di Monkey Forest. Setelah itu anda bisa memanjakan lidah di beberapa restoran lokal seperti Warung Ary, Babi Guling Ibu Oka, Bebek Bengil, Warung Nuri maupun Bumbu Bali. Pasar Seni Ubud sangat menarik untuk kita berburu lukisan dan benda seni lain atau sekadar berbelanja souvenir. Nikmati sesi spa untuk merelaksasi tubuh penat dengan lulur kopi maupun pijat boreh bisa dilakukan di Como Shambala maupun Kirana Spa. Tutuplah malam dengan dinner romantis di Mosaic, Lotus maupun minum cocktail di Jazz Café Bali. 
            Yang jadi trend baru di Ubud adalah kunjungan ke tabib tradisional atau peramal seperti Ketut Liyer. Konon pengobatan dengan pendekatan holistik dan ramuan tradisional ini cukup ampuh bagi mereka yang bermasalah dengan kesuburan. Peramal nasib juga bisa membantu anda membuka cakra untuk memudahkan rejeki maupun mencari jodoh.
Surga Adrenaline dan Safari
            Selain berarung jeram di sungai Ayung, anda bisa menjajal bungy jumping di AJ Hackett atau reverse-bungee di Waterbom Park. Anda juga bisa berselancar di Dreamland atau belajar surfing di Rip Curl School of Surf. Banyak juga tempat di Nusa Dua dan Sanur yang menawarkan parasailing, banana boat dan motorboat. Namun bagi yang gemar olahraga menyelam, tidak sah rasanya datang ke Bali tanpa menengok keindahan bawah air pulau ini.
            Tulamben, Pulau Menjangan, Padang Bai, Nusa Penida, Lembongan, Amed dan Gili Tepekong adalah titik menyelam yang sangat terkenal di Bali. Bagi pemburu manta-ray, atau ikan pari dengan sayap seperti layangan raksasa, bisa menemukannya di Nusa Penida dan Lembongan. Temui kumpulan hiu sirip putih dan dinding koral yang tajam di Gili Tepekong. Musim migrasi mola-mola di bulan September-Desember sangat tepat untuk menyelam di Pulau Menjangan. Tulamben adalah tempat favorit wreck-diver, di mana bangkai kapal USS Liberty karam di tahun 1942 akibat dihajar torpedo kapal selam Jepang.
            Pencinta binatang juga bisa menikmati sunrise dengan lumba-lumba di Lovina. Di daerah Gianyar juga ada Bali Safari & Marine Park untuk melihat berbagai satwa liar seperti macan tutul, harimau putih, orang utan dan buaya sinyulong. Selain itu ada koleksi burung dan berbagai reptilia yang cukup menarik di Bali Bird Park dan Reptile Park yang letaknya bersebelahan di daerah Singapadu. Yang tak kalah unik adalah Bali Camel Safari di daerah Nusa Dua, di mana anda bisa menyusuri pantai dengan menunggang onta.
The Hidden Location
            Anda juga dapat mengunjungi daerah Trunyan di dekat danau Batur dimana masyarakat asli Bali masih tinggal. Di sana, orang yang sudah meninggal tidak dibakar (ngaben), melainkan ditaruh di sebuah area khusus di dalam hutan. Anehnya tidak tercium bau busuk walaupun tidak dikubur.
            Dreamland sudah mulai terlalu ramai? Anda bisa menuju Balangan, sebuah pantai yang sedikit tersembunyi tak jauh dari sana. Pantai perawan yang pemandangannya memesona ini, diam-diam memiliki ombak liar yang digandrungi para peselancar. Namun akses menuju pantai ini tak terlalu mudah, karena anda harus sedikit jalan dan menuruni tangga melewati jalan raya Uluwatu untuk sampai ke sana.
            Pantai lain yang juga masih relatif sepi adalah Candidasa di daerah Karangasem. Wisatawan asing kebanyakan menginap di sini karena banyak private villa dan resort. Letaknya juga tak jauh dari Gili Tepekong yang merupakan salah satu tempat menyelam di Bali. 
            Desa Batubulan di Gianyar juga menarik untuk dikunjungi. Selain terkenal karena kerajinan pahat, anda juga bisa menikmati tarian Barong yang dipentaskan setiap hari di sana.  Jika beruntung, anda bisa melihat upacara ngaben yang sesekali dilakukan oleh keluarga kerajaan Gianyar.
Vacation in Style
            Liburan di Bali bisa dinikmati dengan beragam budget. Jika anda mempunyai dana lebih, tak ada salahnya memanjakan diri menginap di boutique hotel yang tak hanya mewah tapi eksklusif. Ayana di daerah Uluwatu dan Bulgari yang terletak di Jimbaran merupakan hotel termahal di Bali saat ini. Jika anda ingin tinggal di daerah Pecatu, Karma Kandara menawarkan resor tercantik. Ubud memiliki Alilla yang megah namun menenangkan jiwa. Untuk yang tak bisa jauh dari keramaian, Oberoi di Seminyak adalah pilihan terbaik anda.
            Sedangkan untuk hang out menikmati cocktail, anda bisa berehat di The Rock, sebuah bar yang terletak di Ayana. Karma Kandara juga memiliki Nammos Beach Club yang indah untuk melewati sunset. Ku De Ta adalah pilihan favorit untuk menikmati keindahan pantai Kerobokan yang tentunya tidak asing lagi. Namun jika anda ingin menjadi bagian hip crowd di Bali, Klapa adalah tempat to see or be seen terbaru.             

Crazy about Cheese
Thursday, March 24, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on Bank Bukopin Magazine - October 2010

Legit, asin dan sedap! Mungkin itulah komentar kita jika ditanya tentang rasa keju. Makanan ini makin sering ditemukan dalam penganan kita, baik dimakan begitu saja maupun sebagai bahan pelengkap dalam hidangan kita. Tapi seberapa jauh kita mengenal keju dan seluk beluknya? Inilah kisah seputar keju!
Siapa sih yang belum pernah mencicipi keju? Dulu mungkin makanan ini termasuk jenis makanan elit jaman Belanda, sampai ada lagu ‘Singkong dan Keju’ yang populer menggambarkan perbedaan kelas di masyarakat kita. Namun sejalan dengan waktu, keju menjadi makanan yang biasa kita dapatkan dalam hidangan sehari-hari. Sebut saja kaastengels, martabak manis atau makaroni panggang yang memakai keju sebagai salah satu bahan makanannya. Selain itu keju juga bisa dinikmati dalam bentuk potongan dengan roti, buah maupun anggur tertentu sesuai dengan teksturnya.
Kisah Keju, Legenda Ribuan Tahun
Kata ‘keju’ atau ‘cheese’ sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu ‘caseus/casein’ yang berarti ‘menjadi berjamur dan asam’. Karena itu, keju dikenal sebagai ‘cheese’ (Inggris), ‘kaas’ (Belanda) maupun ‘käse’ (Jerman) sebagai turunan bahasa Latin tersebut. Sedangkan nama ‘fromage’ (Prancis) dan ‘formaggio’ (Italia), merupakan turunan bahasa Romawi dari ‘formaticum/caseus formatus’ yang artinya ‘dibentuk’. Ini karena bangsa Romawi mulai membuat keju jenis keras untuk perbekalan pasukannya.
Konon keju ditemukan pada zaman prasejarah saat manusia mulai beternak kambing, domba dan sapi. Susu perahan ternak mereka simpan dalam bejana. Tapi karena kurang higienis, terkena panas matahari atau api maka susu tersebut menjadi asam dan kental. Susu tersebut ternyata masih dapat dikonsumsi sebagai keju krim asam dan yoghurt. Baru sekitar tahun 8000-3000 SM, keju pertama ditemukan di Timur Tengah atau oleh bangsa nomaden Turki di Asia Tengah. Saat itu mereka menggunakan kulit dan perut binatang untuk menyimpan susu kala mengembara. Enzim rennet yang terkandung dalam alat penyimpanan yang terbuat dari binatang tersebut rupanya adalah faktor utama pembuat keju. Ditambah cuaca yang panas dan guncangan saat menunggang kuda, susu yang mereka bawa berubah menjadi gumpalan susu atau dadih. Sejak itulah manusia mulai menggunakan rennet dari perut binatang untuk membuat keju. Getah daun atau ranting pohon ara juga bisa digunakan untuk pengganti rennet  untuk membuat keju tradisional.
Dasar proses pembuatan keju sebenarnya adalah menekan dan menggarami dadih agar dapat disimpan lebih lama. Cara tersebut ditemukan pada sebuah mural makam Mesir yang diperkirakan terbuat pada tahun 2000 SM. Bentuk keju yang dihasilkan saat itu adalah keju lunak bercita rasa asam asin, seperti keju Feta asal Yunani. Dalam mitos Yunani Kuno, keju susu kambing adalah komoditas yang penting di Yunani. Selain dipercaya sebagai obat kuat untuk tentara perang dan pembangkit gairah seksual, keju pun diyakini mampu menyembuhkan radang dan dipersembahkan bagi para dewa.
Bangsa Romawi lalu mengembangkan ragam jenis keju yang kita kenal kini. Proses pematangan dan penyimpanan keju yang berbeda, ternyata menghasilkan citarasa dan karakter keju yang bervariasi. Seni pembuatan keju ditemukan saat Romawi menaklukkan Galia. Kastil maupun rumah mewah di wilayah yang terletak antara Inggris dan Prancis, pada jaman itu memiliki ‘caseale’, suatu area khusus dimana keju bisa dimatangkan. Teknik pembuatan dengan memasukkan dadih ke dalam ‘formage’ atau silinder kayu merupakan asal mula dari kata keju dalam bahasa Perancis dan Italia, fromage dan formaggio.Teknik tersebut berkembang pesat terutama di Eropa dan negara jajahan Romawi. Pada masa pemerintahan Charles yang Agung, resep dan teknik pembuatan keju maupun variasinya banyak ditulis oleh biarawan/biarawati untuk menghindari kelaparan di musim dingin saat susu sulit didapat. Beberapa cara pembuatan keju yang ditemukan adalah Cheddar (1500 M), Parmesan (1597), Gouda (1697) dan Camembert (1791).
Pesatnya pertumbuhan produksi keju di Eropa mempengaruhi kemajuan teknik pembuatan keju hingga kini. Proses pematangan keju dengan bakteri mikroorganisme ditemukan di abad 19 oleh Ferdinand Cohn. Setelah itu, berbagai perusahaan kecil maupun peternakan mulai memproduksi keju mereka sendiri. Pabrik pertama yang memproduksi keju beroperasi di Swiss tahun 1815. Namun negara yang pertama kali sukses memproduksi keju dalam skala besar adalah Amerika Serikat. Pada tahun 1851, Jesse Williams, peternak asal Rome, New York, membuat keju pabrikan menggunakan susu perah dari peternakan setempat. Pada masa Perang Dunia II, keju pabrik semakin populer dan pabrik menjadi sumber penghasil keju terbesar di Amerika dan Eropa.
Lima Tahapan Pembuatan Keju
Ragam keju yang sangat variatif, ditentukan oleh jenis susu, bakteri atau jamur yang dipakai, lama fermentasi maupun penyimpanan/pematangan keju. Faktor lain yang juga mempengaruhi cita rasa keju adalah jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak penghasil susu dan proses pemanasan susu. Walaupun rasa dan jenisnya berbeda-beda, keju umumnyan dibuat dengan 5 tahapan utama.
Tahap pertama yaitu pengasaman susu. Tujuannya agar bakteri asam laktat, yaitu Streptococcus dan Lactobacillus, dapat tumbuh dengan mendiamkan susu dalam suatu wadah. Bakteri tersebut akan memakan laktosa susu dan merubahnya menjadi asam laktat sehingga zat padat dalam susu (protein kasein, lemak, vitamin dan mineral) bisa menggumpal menjadi dadih.
Selanjutnya di tahap pengentalan, rennet ditambahkan dalam susu yang dipanaskan. Protein akan membuat susu menggumpal dan terbagi atas bagian cair (air dadih) dan padat (dadih). Setelah dipisahkan, air dadih dapat dipakai membuat keju jenis Ricotta atau dibuang saja. Dadih dihancurkan menjadi butiran dengan alat berbentuk mirip kecapi. Makin halus dadihnya, makin banyak air dadih yang tersaring dan nantinya keju yang dihasilkan akan lebih keras. Jumlah bakteri yang dimasukkan dan suhu juga penting bagi tingkat kepadatan keju. Proses ini memakan waktu 10 menit hingga 2 jam, tergantung banyak dan suhu susu tersebut. Setelah pemberian rennet, dadih diproses sesuai ragam keju. Dadih mulai dapat dicetak untuk membuat beberapa  macam keju lunak. Sedangkan untuk keju jenis lain, dadih biasanya diiris dan dicincang dengan tangan atau mesin untuk memerah lebih banyak air dadih agar keju yang dihasilkan semakin padat.
Setelah mencapai ukuran yang diinginkan, dadih dipisahkan dan tahap pencetakan bisa dimulai. Untuk keju berukuran kecil, dadih dipisahkan dengan sendok dan dituang dalam cetakan. Sedangkan bagi keju yang ukurannya lebih besar, dadih diangkat dari tangki memakai kain, dikeringkan dahulu lalu ditekan untuk dibentuk atau diiris. Keju harus ditekan sesuai dengan tingkat kepadatan yang diinginkan. Penekanan dadih jarang dilakukan bagi keju lunak karena berat dari keju tersebut sudah cukup untuk melepaskan air dadih. Begitu pula halnya dengan keju iris, tujuannya agar keju cukup lunak untuk diiris dan berat keju menentukan tingkat kepadatan yang diinginkan. Sebagian besar keju melewati proses penekanan dengan waktu dan intensitas penekanan berbeda-beda.
Pada tahap pengasinan, penambahan garam dilakukan sehabis keju dibentuk agar keju tidak terasa tawar. Garam dapat ditambahkan langsung ke dalam dadih sambil diaduk. Cara yang lain adalah dengan menggosokkan atau menaburkan garam pada bagian luar keju, sehingga terbentuk kulit untuk melindungi bagian dalam keju agar tidak matang terlalu cepat. Bagi keju berukuran besar, pengasinan dilakukan dengan merendam dalam air garam hingga berjam-jam bahkan berhari-hari. Keju juga dapat diasinkan dengan mencuci bagian permukaan keju menggunakan larutan garam. Proses pengasinan bertujuan untuk memberikan rasa, membantu menghilangkan air berlebih, mengeraskan permukaan, melindungi keju agar tidak kering serta mengawetkan dan memurnikan keju ketika memasuki proses pematangan.
Proses terakhir yaitu pematangan, akan mengubah dadih segar menjadi keju dengan bermacam cita rasa. Pematangan disebabkan oleh bakteri atau jamur tertentu yang ditambahkan pada proses produksi, dan karakter akhir suatu keju sangat ditentukan dari jenis pematangannya. Selama proses pematangan, keju dijaga pada temperatur dan tingkat kelembaban tertentu sampai siap dikonsumsi. Lama pematangan bervariasi dari beberapa minggu untuk keju lunak hingga beberapa hari untuk keju keras. Ada berbagai teknik sebelum pematangan yang bisa dilakukan untuk menentukan tekstur dan rasa akhir keju. Stretching dilakukan dengan mengusung dan mengadon dadih dalam air panas agar menghasilkan tekstur yang berserabut, seperti keju Mozzarella dan Provolone. Cheddaring adalah dengan cara memotong dadih, ditumpuk untuk menghilangkan kelembaban lalu digiling untuk waktu yang cukup lama agar menghasilkan keju Cheddar atau keju khas Inggris lainnya. Washing merupakan teknik pencucian dadih dalam air hangat untuk menurunkan tingkat keasaman dan membuat keju rasanya lebih lembut seperti keju Edam, Gouda, dan Colby. Burning dilakukan pada beberapa keju keras dengan memanaskan dadih hingga suhu 35-56 °C agar butiran dadih kehilangan air dan keju bertekstur lebih keras misalnya untuk keju Emmental, Appenzeller dan Gruyère.


Ragam Keju Dunia yang Tiada Terkira
Hampir setiap negara di Eropa mempunyai keju khasnya sendiri-sendiri. Diperkirakan terdapat 4000 jenis keju di dunia. British Cheese Board mengaku Inggris memiliki 700 varian lokal, sedangkan Prancis dan Italia masing-masing mempunyai sekitar 400 jenis keju. Jenis keju biasanya dibagi sesuai usia: muda (lembut, segar), sedang, dan tua (keras). Keju yang berjenis muda misalnya Brie, Camembert atau Gaperon. Sedangkan untuk jenis keras antaranya adalah Ementhal, Edam, Gouda dan Cheddar. Jenis keju juga perlu diperhatikan agar cocok disandingkan dengan minuman yang sesuai maupun sebagai campuran dalam bahan makanan tertentu.
Brie adalah keju lembut asal Prancis berkulit putih dengan memiliki pigmen kemerahan. Dibuat dari susu sapi yang dipasteurisasi, keju lunak ini sangat sedap dinikmati dengan anggur merah seperti Bordeaux dan Côtes du Rhône. Jika telah matang betul, bagian dalamnya menyerupai krim dengan aromanya tajam.
Keju Prancis lain yang juga terkenal adalah Camembert. Teksturnya lembut dengan kandungan lemak antara 45 sampai 50 persen. Terbuat dari susu sapi mentah, kulitnya juga putih dan berbentuk krim. Keju ini nikmat untuk dioles diatas crackers dan dinikmati dengan anggur merah ringan seperti Beajolais
Nama keju Cheddar tentu tak asing lagi bagi anda karena jenis ini paling populer baik di Indonesia maupun di dunia. Keju asal Inggris ini biasanya dipakai untuk campuran hampir segala jenis penganan panggang yang anda kenal; martabak manis, burger keju atau pisang bakar keju. Jika masih muda, aroma keju ini cukup lembut dan berwarna pucat. Namun setelah tua, warnanya lebih kuning dan aromanya pun lebih tajam. Dibuat dari susu sapi yang dipasteurisasi, keju ini nikmat diminum dengan susu maupun anggur Burgundy putih.
Edam juga merupakan keju Belanda yang populer di Indonesia. Keju jenis keras ini biasa anda lihat dalam kemasan lilin di supermarket. Teksturnya elastis dengan aroma cukup tajam, dari susu sapi yang dipasteurisasi. Digunakan untuk membuat kaastengel, makaroni, atau penganan lain yang membutuhkan keharuman keju. Keju irisnya cocok untuk dinikmati dengan bir Pilsener.
Jika anda melihat keju raksasa, sangat mungkin keju itu adalah Emmenthal asal Swiss. Keju jenis keras dari susu sapi mentah ini biasa dibuat dalam ukuran besar, sampai seberat 80 kilogram. Termasuk jenis keju yang dimasak dalam penganan khas Alpen yaitu fondue. Dengan dididihkan dalam panci agar keju selalu cair, anda bisa mencelupkan roti yang ditusuk dengan garpu panjang dalam keju leleh dan dinikmati dengan anggur Burgundy merah. Karena jenis fermentasinya, keju ini memiliki lubang-lubang agak besar.
Feta adalah keju khas Yunani yang bentuknya kubus kecil. Dibuat dari susu kambing atau domba, keju lunak ini biasanya diberi campuran herba dan cocok untuk campuran selada segar dan tomat cherry maupun makanan pembuka. Cocok disandingkan dengan anggur putih seperti Roditis.
Keju yang terkenal dari Italia adalah Mozarella. Rasanya lembut dan biasanya dibuat dari susu sapi, tetapi aslinya dari susu kerbau yang konon lebih lezat. Keju ini di Indonesia sering digunakan untuk membuat pizza. Padahal banyak penganan menjadi lezat bila menggunakan keju ini, asalkan disuguhi hangat-hangat. Nikmati dengan segelas Pinot Gringgo, Mozarella akan mengaret ketika panas dan membuat makanan tadi semakin menggiurkan.
Anda biasanya menemukan Parmesan parut pada restoran Italia untuk topping hidangan anda. Termasuk jenis keju yang keras dengan aroma tajam, dari susu sapi yang dipasteurisasi. Karena itu kadang pemakaiannya dikombinasikan dengan Mozarella. Keju parmesan muda sering dijadikan keju meja untuk taburan pasta, namun juga lezat dibuat kue kering bercita rasa asin karena aromanya yang tajam tadi.
Pecorino Romano adalah salah satu keju terlezat asal Italia. Dibuat dari susu domba segar, keju keras ini biasa dihidangkan sebagai makanan pembuka khas dengan Parma ham, selada dan kacang pinus. Aromanya yang kuat dan creamy, amat sedap dipasangkan dengan Chianti Classico.
Untuk hidangan penutup, keju Ricota dari Italia yang lembut ini dapat menjadi pilihan. Dibuat dari sapi atau domba, keju ini juga sering menjadi campuran es krim selain dinikmati dengan strawberry atau blueberry segar. Sandingkan dengan anggur dessert berempah seperti Marsala maupun Asti.
Bagi penggemar tiramisu pasti tak asing dengan keju Mascarpone yang bentuknya cair dan lembut. Cake khas Italia ini terdiri atas susunan biskuit lady finger, cream cheese, keju Mascarpone dan taburan bubuk cokelat. Dibuat dari dari susu sapi yang dipasteurisasi, keju krim yang gurih dan manis ini paling pas dinikmati dengan Prosecco yang bubbly.
Budidaya keju di Asia Barat ditemukan pada masyarakat India dan Nepal. Sedangkan di Asia Timur/Tenggara, mungkin karena iklim tropik yang kurang memungkinkan, keju lokal hampir tak tidak dikenal keberadaannya kecuali di Jepang dan Filipina. Jepang memiliki keju Tenshi dan Sakura dengan berbahan dasar susu sapi yang diberi perasa dari daun cherry gunung. Filipina memiliki sejenis keju lembut bernama Kesong Puti, sejenis cottage cheese yang dibuat dari susu kerbau. Indonesia pun memiliki keju khas asal Entekkang bernama Dangke, terbuat dari susu kerbau yang diolah dengan papain dan bertekstur seperti tahu.
Saat ini keju yang populer dikenal di Indonesia jenisnya terbatas dibandingkan negara lain seperti Eropa, Australia maupun Amerika. Masyarakat Indonesia lebih banyak mengenal jenis keju olahan berjenis Cheddar dan baru belakangan mulai menggunakan jenis lain seperti Parmesan, Mozarella, Edam atau Gouda. Apapun keju yang Anda pilih, perhatikan tanggal kadaluwarsanya. Keju yang melewati waktu batas pemakaian, rasa dan baunya tengik serta dapat mengganggu kesehatan bila tetap dimakan. Setelah dibuka, keju sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara agar tak kering, di dalam lemari pendingin. Sebelum dimakan, lebih baik dikeluarkan dulu dari lemari pendingin satu jam sebelumnya.
BOX
Punyakah Kita Keju Khas Indonesia?
Teknik pembuatan keju kurang berkembang di Asia Tenggara, mungkin akibat iklim tropisnya yang membuat budaya mengkonsumsi keju kurang berkembang. Namun bukan berarti Indonesia tak punya keju khas. Pernahkah anda mendengar tentang Dangke? Makanan tradisional asal Enrekang, Sulawesi Selatan ini bisa dibilang keju khas Indonesia. Pembuatannya diolah dengan tradisional, terbuat dari fermentasi susu kerbau campuran yang direbus dengan garam dan sedikit getah buah pepaya. Rebusan tersebut disaring, dibuang airnya dan dicetak sesuai bentuk yang diinginkan.
Dangke memiliki tekstur seperti tahu dan memiliki rasa yang mirip dengan keju. Enzim papain ini diperoleh dengan cara menggores pepaya muda sehingga getahnya keluar. Setelah susu menggumpal, pemberian getah pepaya dihentikan agar rasa Dangke tidak berubah menjadi pahit. Usai dimasak, adonan susu siap dicetak dalam tempurung kelapa yang dibelah menjadi dua bagian. Jika telah membeku, Dangke bisa langsung dimakan dengan cara diiris seperti keju lembaran. Rasanya gurih dengan warna putih kekuningan. Dangke juga bisa dipanggang maupun digoreng. Aromanya khas dan mengingatkan kita pada keju Parmesan.
Enrekang dikenal sebagai sentra penghasil susu sapi segar terbesar di luar Pulau Jawa. Tak kurang dari 3.600 liter susu diproduksi setiap hari dari populasi sapi perah sebesar 1.500 ekor. Bekerjasama dengan Senior Experten Service (SES) Jerman, tenaga ahli didatangkan khusus untuk membimbing petugas Dinas Peternakan, Dinas Perindustrian dan para peternak sapi perah. Mereka mengenalkan teknik mengolah susu secara higenis agar tidak mengurangi kandungan gizi susu dan pengembangan produk susu, seperti new Dangke (proses pembuatan Dangke yang lebih modern), keju putih, Feta serta yoghurt.
Selain Enrekang, beberapa sentra peternakan sapi di Indonesia juga mencoba untuk memproduksi keju disamping produk yang lebih dahulu populer seperti susu, yoghurt, permen karamel dan es krim. Kabupaten Boyolali di Jawa Tengah juga mengembangkan industri pengolahan keju untuk menyerap produksi susu peternak lokal. Koperasi keju didirikan oleh masyarakat setempat dan mendapat bantuan tenaga ahli dari lembaga donor milik pemerintah Jerman, Deutscher Entwicklungsdienst (DED). Koperasi tersebut dalam sehari dapat mengolah 500 liter susu segar menjadi 50 kilogram keju murni jenis Mozarella, Feta, dan Mountain.
Indonesia juga memiliki pabrik keju lokal di Sukabumi, Jawa Barat. Pabrik keju ‘Natura ala Gouda’ yang dikelola oleh Bukit Baros Cempaka (BBC) juga menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung yang ingin melihat proses pembuatan keju di Pabrik Keju Natura ala Gouda yang dikelola BBC. Gouda yang dipakai sebagai salah satu trademark adalah sebuah kota di Belanda, adalah tempat ahli keju yang melatih di BBC berasal. Mereka menggunakan susu sapi black and white yang diimpor dari Belanda karena bisa beradaptasi di alam Indonesia.
Pabrik Natura Ala Gouda tergolong kecil dan hanya dijalankan 11 karyawan dari desa setempat, jadi jangan bayangkan pabrik keju yang luas atau menjulang tinggi. Proses pasteurisasi, pencetakan sampai perendaman dalam air garam dilakukan dalam satu ruangan. Sedangkan untuk pembuatan keju naturella dan proses fermentasinya dilakukan di ruangan lain. Di pabrik ini, pengunjung bisa menyaksikan proses pembuatan keju. Susu sapi dipasteurisasi dalam suhu 65° C. Kemudian diberi bahan penggumpal, diaduk rata, dan dibiarkan selama 30 menit untuk mengeluarkan air dari gumpalan. Air dadih produk sampingan tersebut digunakan untuk membuat mentega. Sedangkan dadihnya setelah berbentuk padat akan diiris dan dicetak. Setelah itu, keju setengah jadi tersebut lalu direndam dalam air garam dan ditiriskan untuk proses pematangan selama 2-4 bulan. Selama proses tersebut, adonan keju dicek setiap saat untuk menghindari terjadinya pembusukan. Pengunjung dapat mencicipi keju muda setelah melalui proses pengeraman selama 2 bulan.