Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts
The Lion King : A Heartwarming Musical
Tuesday, June 28, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - July 2011
“in the jungle the mighty jungle, the lion sleeps tonight…”

            Lagu jenaka tersebut pasti tak asing lagi bagi anda dan anak-anak anda. The Lion King salah satu produksi terfavorit Disney karena memiliki kisah yang lucu, mengharukan sekaligus sarat nilai moral. Kini, anda dapat menyaksikan pertunjukkan musikalnya di panggung teater Marina Bay Sands selama 2 bulan ini. Diangkat dari sebuah film kartun klasik yang dirilis tahun 1994, The Lion King mulai dipentaskan di panggung Broadway tahun 1997.
            Di panggung pementasan dunia, The Lion King tak kalah dahsyat karena memenangkan Tony Awards tahun 1998 dan Grammy Award untuk Album Musikal Terbaik tahun 1999. The Lion King sudah dimainkan di 70 negara dan dialihbahasakan dalam bahasa Jerman, Jepang, PeranGHs, Belanda dan Korea. Untuk showcase di Singapura, para pemain sudah berlatih sejak January 2011 untuk pementasan dari Maret 2011- May 2011. Berbekal pemain teater multinasional yang berasal dari Afrika Selatan, Amerika, Selandia Baru, Filipina, Taiwan, Kanada, Brazil dan beberapa negara Eropa, The Lion King bertekad untuk menghadirkan pertunjukan kelas dunia bagi para penontonnya.
            Dibuka dengan aksi ekstravagansa dari penari-penari dengan kostum binatang belantara Afrika yang berhamburan dari selasar teater, The Lion King berhasil menyuguhkan aksi yang teatrikal, kolosal dengan kostum modern kontemporer. 13 penyanyi dan 2 set perkusi memperkuat pertunjukan ini. Bunyi-bunyian bongo, konga, berimbau dan timpani makin memperkaya sisi musiknya.
             Kostum khusus  dan  topeng yang desainnya mengikuti alur badan para pemain, membuat mimik tokoh singa, lemur, serigala dan babi hutan dalam kisah ini makin hidup. Dialognya pun sangat jenaka dengan memasukkan sedikit unsur lokal seperti dialek Hokkian atau India. Anak-anak anda pasti juga terhibur karena selain ceritanya yang indah, penyampaiannya pun menyenangkan dan pesan moral yang diberikan cukup mudah untuk dicerna.            
             Pertunjukan ini berlangsung selama 3 jam dengan waktu reses 20 menit. Sampai saat ini, The Lion King adalah pertunjukan musikal dengan penayangan terlama di Singapura. Rata-rata pertunjukan musikal hanya berlangsung selama 2-4 minggu, sedangkan The Lion King berlangsung sejak Maret – Mei 2011, dengan rencana perpanjangan tayang hingga Agustus.
             Untuk menyaksikan The Lion King, anda dapat memesannya dari Sistic Ticketing (www.sistic.com.sg) atau Marina Bay Sands (http://thelionking.com.sg/buy-tickets/) untuk membeli tiket pertunjukan maupun paket menginap di hotel bernuansa resort terbaik di Singapura ini. Harga karcis pertunjukan berkisar dari  65-245 SGD dan dimainkan dari Selasa hingga Minggu sebanyak 8 kali (Selasa – Minggu jam 8 malam, extra show pada Sabtu & Minggu jam 2 siang). Jangan lewatkan sajian musikal yang tak hanya sangat menghibur bagi seluruh keluarga anda, tapi juga sarat dengan edukasi.

Box Interview
Jonathan Hume & Puleng March : Simba & Nala
Pemeran Simba (Jonathan Hume) dan Nala (Puleng March) kelihatan sangat antusias dengan produksi pertama mereka di Asia. Keduanya sudah 2 kali terlibat dalam pertunjukan The Lion King namun inilah kali pertama mereka menjadi leading role. Jonathan, pria berkebangsaan Inggris, dan Puleng, wanita berkebangsaan Afrika Selatan berkenan membagi kisah mereka dengan Good Housekeeping dalam wawancara 30 menit.
               Good Housekeeping (GH): bagaimana kalian diaudisi dan mendalami peran ini?

Jonathan Hume (JH): proses audisi berlangsung setahun sebelum produksi. Saya pernah terlibat pementasan The Lion King di London tahun 2001. Tapi produksi kali ini berbeda dan sutradara panggung kami, John Stefaniuk, menginginkan kami start fresh, sehingga peran Simba saya pelajari ulang tanpa terpengaruh pementasan sebelumnya.
Puleng March (PM):  saya juga pernah terlibat dalam produksi The Lion King di Afrika Selatan pada tahun 2008. Produksi The Lion King di setiap negara memiliki standard tertentu, namun tiap-tiap darinya begitu unik. Saya belajar banyak dari dokumenter singa, bahkan kami juga belajar dari penari Bali yang didatangkan untuk lebih menggali bahasa tubuh orang Asia.

GH: senangkah anda berada di Asia?

JH: sangat senang, bahkan kalau bisa saya ingin mengajak seluruh teman dan keluarga tinggal di sini. Kami sudah di sini sejak Januari dan minimal akan tinggal di sini hingga Agustus. Saya suka karena bisa pakai kaus dan celana pendek kapan saja.
PM: ini adalah kunjungan pertama saya di Singapura dan saya terkesan dengan keramahan Asia. Saya agak pemilih dalam makanan, tapi saya dimanjakan dengan berbagai pilihan makanan lokal di sini. Jika ada waktu, saya ingin berkeliling Asia Tenggara.

GH: apa yang membuat pertunjukan ini beda dengan filmnya?

JH: pertunjukan musikal ini saya rasa lebih visual dimana para penonton diajak untuk terlibat. Kami ingin membuat penonton merasakan ‘The Lion King’ experience, dimana kami membawa mereka ke dimensi lain. Ceritanya mungkin sama, tapi feel nya tetap berbeda.
PM: bahkan dari sisi cerita, pertunjukan ini memberikan extended-version. Tokoh Nala lebih diperdalam, begitupula background ceritanya. Lagu-lagu nya pun mempunyai versi yang sedikit beda dari kartun dengan track yang lebih banyak.

GH: bagaimana anda menyampaikan pesan moral untuk penonton anda yang berusia muda?

JH: walaupun kami memainkan pertunjukan matinee pada akhir minggu, kami tidak merubah apapun dalam format acara. The Lion King tetaplah The Lion King dan kami tidak membuat penyesuaian apapun untuk penonton anak-anak. Tapi justru karena The Lion King sendiri merupakan pertunjukan yang sifatnya universal dan bisa dinikmati bagi seluruh usia, baik tua maupun muda.
PM: pertunjukan ini sebenarnya sudah kaya secara visual, dimana sangat menarik bagi anak-anak untuk terus memperhatikan. Dialog dalam pertunjukan ini juga cukup ringan, lucu dan mudah dicerna sehingga apa yang kami sampaikan dapat ditangkap dengan mudah bagi audiens kami. Respons dari penonton terhadap kami, baik saat pertunjukan maupun sesudahnya sangat fantastis. Kami baru sebulan manggung, tapi sudah banyak yang menonton pertunjukan ini 2-3 kali karena mereka tak keberatan untuk menonton lagi dengan anggota keluarga atau teman yang berbeda.

GH: harapan anda tentang pertunjukan ini?

JH: kami ingin masyarakat tak hanya terhibur tapi juga bisa menginspirasi produksi musikal lokal. Rasanya bangga saat kami dikunjungi LaSalle Design School dan bisa berbagi tentang proses produksi dari pementasan ini.
PM: kami juga ingin menginspirasi audiens kami yang datang  dari umur yang berbeda-beda, terutama untuk anak-anak. Saya masih ingat ketika saya kecil dan menonton pertunjukan musikal untuk pertama kali, saya sangat terkesan dan bisa menyanyi berhari-hari setelahnya.


Suddenly Saigon
Wednesday, March 30, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , ,

as published on Good Housekeeping Indonesia - February2011
            Sahabat saya, Naila, sempat berkunjung ketika saya masih berdomisili di Singapura untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 32. Ide impulsif untuk mengunjungi Saigon datang saat kami tahu dari laman Facebook ada beberapa kawan yang sedang backpacking keliling IndoChina. Kami melakukan kontak untuk menyusul mereka di Ho Chi Minh City alias Saigon, sebelum mereka melanjutkan perjalanan keliling Vietnam. Berbekal tiket dadakan yang dipesan 5 jam sebelum keberangkatan dan sebuah ransel, kami berangkat ke Saigon untuk perjalanan 3 hari 2 malam.
Kota Seribu Motor
            Menginjak Saigon, kita seperti dihadapkan pada Jakarta tahun 1980 an. Ibukota Vietnam ini masih banyak motor yang berseliweran dengan tata kota dan traffic yang semerawut. Namun justru inilah yang jadi nadi penghidup kota terpadat di Vietnam ini. Bangunan tua berarsitektur kolonial Perancis yang berlomba dengan gedung berdesain modern menghiasi muka Saigon. Sementara rumah-rumah khas perkotaan Vietnam yang cenderung sempit namun tingginya sampai 4 lantai juga bertebaran di kota ini.
            Tidak perlu apply visa untuk mengunjungi Vietnam, cukup antri visa on arrival yang gratis bagi warga negara ASEAN. Dalam 30 menit, kita sudah bisa keluar dari imigrasi untuk ambil bagasi. Bandara Tan So Nhat cukup nyaman karena relatif baru, tapi seperti kebanyakan aiport negara berkembang, belum dilengkapi sistem informasi yang memadai. Dari sini, kita bisa memilih untuk menuju pusat kota dengan naik motor (USD 5-7) atau taksi (USD 10-12). Oh ya, bepergian di Vietnam lebih baik berbekal recehan USD karena mereka lebih menyukai mata uang Amerika ketimbang VND (Vietnam Dong). Biasanya, transaksi pembayaran dalam USD akan diberikan kembalian dalam VND. Kurs untuk 1 USD adalah sekitar 18.000 VND.
            Perjalanan menuju tengah kota Ho Chi Minh cukup ditempuh dalam 30-40 menit. Dengan luas 2.095 km2, Saigon terbagi atas 19 distrik lokal dan 5 distrik suburban. Untuk memudahkan acara jalan-jalan, disarankan untuk menginap di hotel yang terletak di District 1 yang merupakan pusat kota. Hotel termewah di kota ini, Rex Hotel, sudah berdiri sejak tahun 1970an dan baru direnovasi tahun 2008 kemarin, bisa anda tinggali dengan tarif mulai USD 100-150/malam. Tapi jika anda ingin berhemat, hotel bintang 2-3 di Saigon berkisar antara USD 70-45/malam. Paket murah ala Jalan Jaksa juga disediakan losmen sepanjang Pham Nguc Lao dengan tarif USD 10-30/malam.
            Untuk berkeliling Ho Chi Minh City, anda bisa ikut day tour yang banyak disediakan oleh hotel lokal dengan biaya USD 10-15 untuk setengah hari. Jika anda berniat untuk keliling kota sendiri, anda bisa naik taksi, motor maupun tuk-tuk sebagai sarana transportasi. Kebanyakan backpackers menyewa tukang ojek untuk berkeliling seharian cukup dengan membayar USD 5. Tapi jika anda bersama keluarga, akan lebih nyaman jika menyewa mobil sekitar USD 25-35/hari termasuk bensin.
Pasar Ben Thanh, Istana Reunifikasi & Notre Dame
            Belum sah jika pergi ke Saigon tanpa mampir ke Pasar Ben Thanh. Pasar ini hampir seperti Pasar Chatuchak di Bangkok, menawarkan berbagai barang baik untuk turis ataupun kebutuhan sehari-hari. Pastinya kita harus pandai-pandai menawar dan berhati-hati akan copet yang suka berkeliaran. Di sini kita bisa membeli souvenir seperti tas sulam sutera, topi kerucut, lukisan maupun ukiran kayu khas Vietnam. Tidak hanya itu, beberapa warung di bagian belakang pasar juga menyediakan makanan khas Vietnam seperti bahn pho (mie daging), guoi cuon (lumpia basah), roti baguette isi keju/daging asap/tuna, gorengan bakso, jajanan es maupun kopi tetes ala Vietnam dengan susu kental manis. Untuk makan di pinggir jalan, perlu hati-hati karena mereka biasa mengkonsumsi daging babi. Jadi tanyalah dulu sebelum menyantap hidangan Vietnam yang segar dan lezat.
            Istana Reunifikasi juga patut dikunjungi bagi yang gemar berwisata museum. Bangunan ini pertama kali berdiri sebagai kantor gubernur masa pendudukan Prancis pada tahun 1858. Pembangunan terakhir yang dilakukan pada tahun 1962 membuat arsitektur art-deco terasa kental, bercampur dengan aroma sejarah pada peninggalan di era peralihan masa borjuis menuju komunis yang terjadi tahun 1975. Yang menarik, istana ini juga memiliki ruang hiburan, lengkap dengan meja roulette untuk pejabat-pejabat berjudi.
            Selain itu, landmark yang tak bisa dilewatkan adalah katedral Notre-Dame yang menurut saya adalah salah satu bangunan tercantik di Saigon. Gereja katolik yang dibangun pada tahun 1863 dan diakui oleh Vatikan sebagai katedral basilika pada tahun 1962. Seluruh materialnya diimpor dari Prancis pada awal pembangunannya, bahkan kaca gelasnya didatangkan dari daerah Lorin dan batanya dari Marseille. Sebuah patung Bunda Maria ukuran raksasa terletak tepat di depan gereja. Sangat romantis untuk melewatkan senja dengan mengopi di kafe-kafe ala Prancis yang tersebar di sekitar area ini. Kantor Pos Lama Saigon yang tak kalah indah juga terletak beberapa meter dari tempat ini, membuat kita betah berlama-lama foto hunting di sini.
Jadi Tikus Tanah di Cu Chi Tunnel dan Menyusuri Mekong Delta
            Cukup membayar USD 25 untuk ikut serta paket wisata ke kuil Cao Dai dan Cu Chi Tunnel yang letaknya sekitar 2.5 jam dari Saigon. Kuil Cao Dai adalah semacam agama yang penganutnya memiliki mengakui agama Budha, Konghucu,Tao dan Kristen. Terletak di Tay Ninh, biasanya mereka melakukan doa bersama pada jam 12 siang dan upacara ini sangat menarik dengan pendeta dan penganutnya yang memakai jubah warna-warni.
            Cu Chi Tunnel sendiri adalah jaringan bawah tanah tempat Vietkong melakukan perlawanan terhadap tentara Amerika pada perang Vietnam di tahun 1960an. Para tentara Vietkong bersembunyi di sini dan lorong ini penuh dengan jebakan, baik berupa bom maupun alat penyiksaan yang lain. Ukurannya pun disesuaikan dengan tubuh orang Vietnam, sehingga sangat menyulitkan bagi tentara Amerika melawan mereka secara gerilya. Lorong ini dilengkapi dengan ruang makan, dapur umum, penyimpanan logistik, bahkan klinik dan sekolah. Seperti desa bawah tanah dan turis pun bisa menjajal keluar masuk lorong ini untuk merasakannya. Tapi hati-hati karena belum semua bom dibersihkan dari area ini, jadi kita harus berjalan di area yang sudah diamankan. Ada juga lapangan tembak dimana kita bisa menjajal senapan AK47 dan artileri berat lain dan kita boleh membawa pulang selongsong pelurunya.
            Yang juga bisa dicoba adalah perjalanan menyusuri Mekong Delta dari Saigon menuju Phnom Penh, Kamboja. Dengan menyusuri sungai Mekong, kita bisa menikmati keseharian masyarakat perairan dengan pasar dan desa terapung yang merupakan nadi kehidupan kaum Khmer di masa lampau. Ini adalah alternatif menarik jika anda mempunyai waktu 3 hari, sedangkan perjalanan Saigon – Phnom Penh bisa ditempuh dalam waktu 7 jam dengan menggunakan bis antar kota.

Uniquely: Bali
Tuesday, March 29, 2011 by Detta Paramaditha in Labels: , , , ,

as published on ICBC Magazine- February 2011


             Diberkahi oleh hamparan ratusan pantai dan ribuan pura, Bali bukan lagi destinasi yang asing bagi kita. Kesohoran pulau dewata yang bergaung di manca negara semakin membahana, terimakasih pada film Hollywood yang baru-baru ini dirilis: Eat, Pray, Love. Film yang dibintangi oleh Julia Roberts dan Javier Bardiem ini diangkat dari sebuah novel terkenal yang ditulis oleh Elisabeth Gilbert, menceritakan perjalanan spiritualnya saat mengunjungi Roma, Ganeshpuri dan Bali. Di film itu, kita bagaikan dibuka matanya sebagai orang Indonesia, sejauh apakah kita mengenal tempat wisata yang mungkin telah kita kunjungi berkali-kali ini. Karena bagaikan kotak mestika, Bali menyimpan begitu banyak kejutan dan keindahan yang tak habis dieksplorasi, yang bukan melulu hanya daerah Kuta dan sekitarnya.
Tetirah ala Eat, Pray, Love
            Gilbert menjadikan Ubud sebagai destinasi terakhir dari perjalanan mencari jati dirinya bukan tanpa sebab. Epik terakhir yang bernama Cinta, bukan sekedar karena dia menemukan belahan hatinya, Felipe, tapi juga karena dia bisa berdamai dengan dirinya di sini. Tentunya ini tak lepas dari aura Ubud yang tenang, damai dan indah.
            Hamparan sawah yang hijau di Ubud, mungkin tak jauh beda dari kebanyakan pedesaan di Indonesia. Tapi kentalnya aroma budaya Bali dengan kehidupannya membuatnya berbeda dari tempat lain. Café kecil, studio lukis/pahat, kelas yoga dan spa eksotis membuat tempat ini tidak hanya indah tapi nyaman untuk ditempati. Tak heran banyak warga negara asing yang hanya merencanakan berkunjung seminggu, akhirnya tinggal selama setahun di sini.
            Nikmati pemandangan sungai Ayung yang indah sambil sarapan pagi di hotel untuk memulai hari anda. Lanjutkan dengan naik sepeda ontel menuju Yoga Barn  untuk mengambil kelas yoga atau meditasi. Bagi yang gemar kegiatan menantang dapat memilih untuk berarung jeram atau trekking di Monkey Forest. Setelah itu anda bisa memanjakan lidah di beberapa restoran lokal seperti Warung Ary, Babi Guling Ibu Oka, Bebek Bengil, Warung Nuri maupun Bumbu Bali. Pasar Seni Ubud sangat menarik untuk kita berburu lukisan dan benda seni lain atau sekadar berbelanja souvenir. Nikmati sesi spa untuk merelaksasi tubuh penat dengan lulur kopi maupun pijat boreh bisa dilakukan di Como Shambala maupun Kirana Spa. Tutuplah malam dengan dinner romantis di Mosaic, Lotus maupun minum cocktail di Jazz Café Bali. 
            Yang jadi trend baru di Ubud adalah kunjungan ke tabib tradisional atau peramal seperti Ketut Liyer. Konon pengobatan dengan pendekatan holistik dan ramuan tradisional ini cukup ampuh bagi mereka yang bermasalah dengan kesuburan. Peramal nasib juga bisa membantu anda membuka cakra untuk memudahkan rejeki maupun mencari jodoh.
Surga Adrenaline dan Safari
            Selain berarung jeram di sungai Ayung, anda bisa menjajal bungy jumping di AJ Hackett atau reverse-bungee di Waterbom Park. Anda juga bisa berselancar di Dreamland atau belajar surfing di Rip Curl School of Surf. Banyak juga tempat di Nusa Dua dan Sanur yang menawarkan parasailing, banana boat dan motorboat. Namun bagi yang gemar olahraga menyelam, tidak sah rasanya datang ke Bali tanpa menengok keindahan bawah air pulau ini.
            Tulamben, Pulau Menjangan, Padang Bai, Nusa Penida, Lembongan, Amed dan Gili Tepekong adalah titik menyelam yang sangat terkenal di Bali. Bagi pemburu manta-ray, atau ikan pari dengan sayap seperti layangan raksasa, bisa menemukannya di Nusa Penida dan Lembongan. Temui kumpulan hiu sirip putih dan dinding koral yang tajam di Gili Tepekong. Musim migrasi mola-mola di bulan September-Desember sangat tepat untuk menyelam di Pulau Menjangan. Tulamben adalah tempat favorit wreck-diver, di mana bangkai kapal USS Liberty karam di tahun 1942 akibat dihajar torpedo kapal selam Jepang.
            Pencinta binatang juga bisa menikmati sunrise dengan lumba-lumba di Lovina. Di daerah Gianyar juga ada Bali Safari & Marine Park untuk melihat berbagai satwa liar seperti macan tutul, harimau putih, orang utan dan buaya sinyulong. Selain itu ada koleksi burung dan berbagai reptilia yang cukup menarik di Bali Bird Park dan Reptile Park yang letaknya bersebelahan di daerah Singapadu. Yang tak kalah unik adalah Bali Camel Safari di daerah Nusa Dua, di mana anda bisa menyusuri pantai dengan menunggang onta.
The Hidden Location
            Anda juga dapat mengunjungi daerah Trunyan di dekat danau Batur dimana masyarakat asli Bali masih tinggal. Di sana, orang yang sudah meninggal tidak dibakar (ngaben), melainkan ditaruh di sebuah area khusus di dalam hutan. Anehnya tidak tercium bau busuk walaupun tidak dikubur.
            Dreamland sudah mulai terlalu ramai? Anda bisa menuju Balangan, sebuah pantai yang sedikit tersembunyi tak jauh dari sana. Pantai perawan yang pemandangannya memesona ini, diam-diam memiliki ombak liar yang digandrungi para peselancar. Namun akses menuju pantai ini tak terlalu mudah, karena anda harus sedikit jalan dan menuruni tangga melewati jalan raya Uluwatu untuk sampai ke sana.
            Pantai lain yang juga masih relatif sepi adalah Candidasa di daerah Karangasem. Wisatawan asing kebanyakan menginap di sini karena banyak private villa dan resort. Letaknya juga tak jauh dari Gili Tepekong yang merupakan salah satu tempat menyelam di Bali. 
            Desa Batubulan di Gianyar juga menarik untuk dikunjungi. Selain terkenal karena kerajinan pahat, anda juga bisa menikmati tarian Barong yang dipentaskan setiap hari di sana.  Jika beruntung, anda bisa melihat upacara ngaben yang sesekali dilakukan oleh keluarga kerajaan Gianyar.
Vacation in Style
            Liburan di Bali bisa dinikmati dengan beragam budget. Jika anda mempunyai dana lebih, tak ada salahnya memanjakan diri menginap di boutique hotel yang tak hanya mewah tapi eksklusif. Ayana di daerah Uluwatu dan Bulgari yang terletak di Jimbaran merupakan hotel termahal di Bali saat ini. Jika anda ingin tinggal di daerah Pecatu, Karma Kandara menawarkan resor tercantik. Ubud memiliki Alilla yang megah namun menenangkan jiwa. Untuk yang tak bisa jauh dari keramaian, Oberoi di Seminyak adalah pilihan terbaik anda.
            Sedangkan untuk hang out menikmati cocktail, anda bisa berehat di The Rock, sebuah bar yang terletak di Ayana. Karma Kandara juga memiliki Nammos Beach Club yang indah untuk melewati sunset. Ku De Ta adalah pilihan favorit untuk menikmati keindahan pantai Kerobokan yang tentunya tidak asing lagi. Namun jika anda ingin menjadi bagian hip crowd di Bali, Klapa adalah tempat to see or be seen terbaru.